PENYUSUNAN
REVIEW BOOK
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Karya Tulis Ilmiah
Dosen Pengampu: M. RIKZA CHAMAMI, M. SI.

Disusun oleh :
Nia Muflichana 123311034
Rizal Pallevi 123311036
Sandi Milzam
Fortuna 123311037
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG
2013
I.
PENDAHULUAN
Resensi buku acap kali kita temukan dalam berbagai media
cetak.Menulis resensi sebenarnya muah. Namun, sebelum meresensi, semestinya
seseorang memahami dasar-dasar menulis resensi seperti yang dianjurkan oleh
Samsul (2003), yaitu: pertama, memahami atau menangkap tujuan (maksud)
pengarang dengan karya yang dibuatnya. Berhasil atau tidaknya kita menangkap
tujuan dari sang penulis akan menentukan bagus atau tidaknya resensi kita.
Kedua, memiliki tujuan dalam membuat reensi buku.Seperti dasar
menulis artikel pada umumnya, sebuah tulisan harus didasarkan sebuah
tujuan.Begitu juga dengan resensi. Tujuan itu bisa berupa mengajak orang-orang
untuk ikut membaca buku itu, ataupun bisa sebagai kritik dan masukan bagi sang
penulis.
Ketiga, harus mengenal atau mengetahui selera dan tingkat pemahaman
dari para pembaca. Sebuah resensi buku Das Kapital-nya Karl Marx tidak
akan sesuai untuk pembaca koran lokal. Dengan memahami selera dan tingkat
pemahaman pembaca media massa yang dituju, kita dapat menyesuaikan pemilihan
buku dan gaya tulisan yang dapat diterima mereka.
Keempat, mempunyai pengetahuan dan menguasai berbagai disiplin ilmu
pengetahuan sebagai tolok ukur ketika mengemukakan keunggulan dan kelemahan
buku. Menguasai berbagai pengetahuan akan mempermudah kita menulis resensi yang memadai sesuai dengan kategori buku
tersebut. Seperti menulis resensi tentang ekonomi tentunya kita harus mempunyai
wawasan dan pengetahuan mengenai bidang tersebut.
Kelima, jadilah pengamat buku sekaligus kolektor buku. Bagus atau
tidaknya sebuah buku akan relative berbeda tiap orang. Memberikan perbandingan
dengan buku lain akan mempermudah kita dan pembaca dalam menentukan tolak ukur
kadar kualitas buku yang diresensi.
Resensi buku/ review book juga mempunyai pengertian, tujuan adanya
penulisan resensi buku, ruang lingkup resensi buku, langkah-langkah penyusunan
resensi buku. Yang akan di jelaskan dalam bab resensi buku di bawah ini.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa Pengertian
Review Book?
B.
Apa
Tujuan Penulisan Review Book?
C.
Bagaimana
Ruang Lingkup Review Book?
D.
Apa
saja Langkah-langkah Penyusunan Review Book?
E.
Seperti
apakah Contoh dari Review Book?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Review Book/ Resensi Buku
Kata resensi dapat diartikan sebagai tulisan tentang timbangan buku
atau wawasan tentang baik atau kurang baiknya kualitas suatu tulisan yang
terdapat di dalam suatu buku. Namun makna kata resensi akhir-akhir ini meluas
dan tidak hanya penilaian terhadap kualitas suatu buku. Oleh sebab itu, kata
resensi dewasa ini diartikan sebagai suatu tulisan yang memberikan penilaian
terhadap suatu karya buku (fiksi dan nonfiksi), pementasan film drama atau
music dengan cara mengungkapkan segi keunggulan dan kelemahan secara objektif.[1]
Resensi dapat juga diartikan sebagai suatu penjelasan, kupasan, komentar,
interpretasi, atau kritik mengenai suatu hal, khususnya karya tulis ilmiah.
Resensi merupakan pertimbangan nilai dan makna buku yang dalam pembahasannya
lebih dititikberatkan pada pertimbangan ilmiah yang dilengkapi dengan sejumlah
argumentasi.[2]
Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa resensi merupakan
salah satu upaya menghargai tulisan atau karya orang lain dengan cara
memberikan komentar secara objektif. Di dalam hal ini harus dihindari sejauh
mungkin sifat subjektivitas penulis resensi terhadap bahan yang akan diresensi
atau rasa senang dan tidak senang terhadap seseorang. Selain itu penulisan
resensi harus memiliki wawasan yang cukup tentang bahan yang akan diresensi
sangat dalam dan mengena pada sasaran penimbangan suatu karya.[3]
Merensensi buku adalah kegiatan dengan memberikan peniliaian
terhadap sebuah buku, menginformasikan data buku kepada masyarakat melalui
media massa (cetak atau elektronik).[4]
B.
Tujuan Resensi
Menulis resensi sebagai salah satu upaya memperkenalkan suatu buku
atau pementasan kepada orang lain yang belum membaca atau belum menyaksikan
sehingga setelah membaca resensi orang tersebut tergerak hatinya untuk
menyaksikan atau membaca karya orang lain. Dari hal ini maka tujuan meresensi
menjadi meluas, diantaranya sebagai salah satu promosi suatu karya kepada
khalayak yang belum mengetahui karya tersebut.Dari hal ini maka kita mengenal
selain resensi buku dikenal juga resensi film, resensi drama, pementasan, music
dan sebagainya.
Adapun
beberapa tujuan penulisan resensi adalah sebagai berikut:
1.
Menimbang
agar buku atau suatu pementasan memperoleh perhatian dari orang-orang yang
belum membacanya atau menyaksikannya serta dari orang-orang yang
membutuhkannya.
2.
Memberikan
penilaian dan penghargaan terhadap isi suatu buku atau pementasan sehingga
penilaian itu diketahui khalayak.
3.
Melihat
kesesuaian latar belakang pendidikan ilmu pengarang (untuk buku) dan kesesuaian
karakterisasi tokoh, penokohan, setting (untuk pementasan) dengan bahan yang
ditulisnya atau sajian pementasan.
4.
Menghargai
ke unggulan dari suatu penulisan buku/ penyajian pentas.
5.
Mengungkapkan
kelemahan suatu penulisan dan sistem penulisan/ alur pementasan.
6.
Memberikan
pujian atau kritikan (yang konstruktif) terhadap bobot ilmiah atau nilai sastra
(untuk buku fiksi) karya tulis seseorang terhadap segala unsur pementasan.[5]
7.
Memberikan
informasi atau pemahaman yang komprehensif tentang apa yang tampak dan
terungkap dalam sebuah buku.
8.
Mengajak
pembaca untuk memikirkan, merenung, dan mendiskusikan lebih jauh fenomena atau
problem yang muncul dan sebuah buku.[6]
Dari tujuan-tujuan tersebut
diharapkan dapat memperjelas pengertian resensi dan dapat memberikan gambaran
bagaimana seharusnya menulis resensi itu. Hal lain yang perlu diingat adalah
publikasi karya tersebut. Oleh karena resensi diharapkan dapat diketahui oleh
masyarakat banyak, maka tulisan resensi itu biasanya dimuat di media massa.
C. Ruang Lingkup Review Book
Bentuk resensi yang paling popular adalah resensi buku atau
timbangan buku. Resensi buku merupakan salah satu cara membudidayakan minat
baca terhadap buku baru. Untuk meresensi buku, pertama-pertama peresensi harus
membaca buku itu sampai selesai dan memahami isinya.
Bagian yang ada didalam karangan resensi adalah identitas buku,
jenis buku, kutipan singkat/ikhtisar buku, penilaian peresensi terhadap
kualitas buku, dan ajakan kepada khalayak untuk mengetahui isi buku itu secara
keseluruhan dengan jalan membaca atau memiliki buku tersebut. Identitas
keseluruhaan dengan jalan membaca atau memiliki buku tersebut, judul buku, buku
meliputi: foto copy jilid luar buku atau foto buku tersebut, judul buku,
pengarang, penerbit, tahun tertib, kota tertib, ukuran buku, jumlah halaman,
dan jumlah buku tersebut. Data ini akan memberikan gambaran yang jelas sekali
terhadap pembaca resensi yang tertarik untuk mengetahui atau memiliki buku
tersebut.
Pada uraian jenis buku, peresensi mengelompokkan jenis buku
tersebut berdasarkan ciri-ciri yang terdapat didalam buku itu.Misalnya dikenal
jenis-jenis buku fiksi dan nonfiksi, buku ilmiah dan buku nonilmiah (hiburan),
buku remaja, anak-anak dewasa, orang tua, buku keagamaan, psikologi, dan
sebagainya.Dari uraian ini jelaslah bahwa pengelompokan jenis buku bertolak
dari klasifikasi buku itu dan titik pandang peresensi terhadap isi buku
tersebut.[7]
Dalam mengungkapkan bagian uraian atau kutipan singkat buku
tersebut dapat dilakukan dengan membuat sesuatu ikhtisar yang menjadi ide
sentral buku itu. Hal itu akan diketahui jika peresensi memahami seluruh isi
buku itu dan menghubungkannya dengan judul buku yang diresensi. Gambaran umum
tentang isi bukupun dapat digunakan dengan mengisi bagian ini, terutama
gambaran yang dapat “ditangkap” oleh peresensi tetapi bukan
menginterprestasikannya.
Kualitas suatu buku bertolak dari
pengungkapan beberapa bagian yang dapat diunggulkan dari bagian isi buku
tersebut dan bagian yang melemahkannya dengan wawasan yang sangat luas dan
sikap objektifitas tinggi.Pada bagian ini dapat pula dimasukan kritik terhadap
isi buku.
Bagian yang tidak kalah pentingnya
yaitu berupa ajakan kepada pembaca yang belum memilki atau membaca buku
tersebut.Ajakan yang dimaksud bertolak dari ungkapan kualitas suatu buku yang
diharapkan dapat dibaca dan dipahami bagi khalayak yang belum
mengetahuinya.Dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu peresensi berusaha
mengajak atau menyarankan kepada khalayak untuk mengetahui isi buku yang telah
diresensinya.
Sementara itu judul yang digunakan merupakan
gambaran dan kesan dari isi buku itu secara keseluruhan atau ciri khas dari
buku yang diresensi agar tampak lebih menonjol eksistensi isi buku
tersebut.Dapat dikatakan pula bahwa isi judul tulisan resensi adalah “nama”
atau julukan yang diberikan oleh seorang peresensi terhadap buku yang
diresensinya.[8]
D. Langkah-langkah Menyusun Review Book
Pada saat membuat dan menyusun
resensi resentator harus betul-betul menguasai dan mengetahui bahan yang akan
diresensi. Dengan demikian karangan resensi tidak hanya mengungkapkan segala
sesuatu yang terdapat di dalam karya tersebut, melainkan mencakup pula uraian
perbandingan dengan karya-karya lain yang sejenisnya. Begitu pula dengan
penulis harus memperkaya isi tulisan. Caranya yaitu, yang pertama, menggali informasi
melalui bahan bacaan. Kedua, melakukan pengamatan atau penggalian terhadap
fenomena kehidupan, baik secara langsung maupun melalui media audiovisual.[9] Kemampuan
menggunakan kosakata dan istilah yang tepat, kemahiran menyusun kalimat
efektif, dan kecekatan menuliskannya ke dalam paragraf yang baik mutlak
dimiliki oleh penulis.[10] Guna
memberi gambaran yang semakin jelas tentang resensi, berikut ini akan diuraikan
beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari peresensi.
Ada yang perlu diperhatikan dari resensi, antara lain:
1.
Peresensi
harus bersikap objektif terhadap sesuatu yang akan diresensi dan menanggalkan
sepenuhnya sikap subjektifitas.
2.
Peresensi
mempunyai wawasan yang cukup luas terhadap bahan yang akan diresensi
3.
Peresensi
harus mencoba membandingkan dengan sajian bentuk lain yang memiliki kesesuaian
dengan bahan yang diresensi.
4.
Peresensi
harus mencoba memberikan komentar dengan acuan yang jelas dan terarah pada
bagian yang diberi komentar agar tidak menimbulkan kesalahtafsiran antara
resentator dengan penulis buku tersebut
5.
Peresensi
haus mengungkapkan data berupa bagian atau unsur-unsur yang diresensi secara
jelas dan lengkap agar dapat dengan mudah dihubung-hubungkan antara keduanya
oleh pembaca
6.
Peresensi
harus menghindari interpretasi yang keliru terhadap bahan yang diresensi, yaitu
dengan cara mengetahui dengan jelas tujuan dan arah penulis atau penyaji karya
tersebut.
Dengan memahami beberapa hal yang
perlu diperhatikan oleh seorang peresensi, diharapkan akan membantu memberikan
arah dan gambaran didalam membuat resensi. Kadang-kadang memang terasa sulit
sekali jika akan memulai membuat resensi tanpa mengetahui apa yang harus
dikerjakan dan bagaimana seharusnya menulis resensi.[11]
E. Contoh Review Book
atau Resensi Buku
Untuk memperjelas pemahaman ihwal
resensi, dibawah ini akan diberikan contoh karangan resensi buku Ekonomika
Industri Indonesia karya Mudrajad Kuncoro yang dimuat di Kompas edisi 29
Juli 2007. Resensi ini ditulis oleh Luhur Fajar Martha (2007).
|
Resensi Buku Ekonomi Industri Indonesia: Menuju Negara Industri
Baru 2030
Judul Buku : Ekonomika
Industri Indonesia
Penulis : Prof. Dr. Mudrajad Kuncoro,
M.Soc.Sc
Penerbit : Penerbit Andi
Tebal : 492 halaman
Harga : Rp 108.000,00
Visi
Pembangunan Indonesia: Menuju 2030
Penulis buku ini menulis pendahuluan resensinya dengan menyebut
visi Indonesia 2030 atas gagasan dari Yayasan Indonesia Forum. Visi Indonesia
2030 telah diumumkan pada Maret 2007 lalu. Angan-angan untuk menjadikan
Indonesia sebgai negara maju ini membuat banyak akademisi ataupun ilmuwan,
suka atau tidak suka, terbawa di dalamnya.
Mudrajad memotret persoalan dan dinamika industrialisasi di
Indonesia, yang masih termasuk ke dalam kelompok negara-negara berkembang,
dalam lingkup ilmu ekonomi. Secara kritis, peresensi menyoroti tentang buku
ini yang dinilai menggunakan kerangka I-O (Industrial Organization) yang
populer digunakan untuk menjelaskan bagaimana industri bekerja. Di sinilah,
Mudrajad menyampaikan perspektif yang berbeda dengan pendekatan konvensional.
Pendekatan
Spasial
Kerangka Industrial Organization yang konvensial diberlakukan
pada tingkat perusahaan dengan kondisi persaingan tidak sempurna, yang
terlatak di antara persaingan sempurna dan monopoli murni. Ini membuat kajian
teoretis dalam ekonomi industri lebih realistis. Persaingan sempurna terjadi
saat pasar diisi oleh cukup banyak produsen dan konsumen sehingga mereka
hanya dapat menerima harga yang berlaku. Saat hanya satu produsen menguasai
pasar, terjadi kondisi yang disebut monopoli murni.
Persaingan sempurna dihindari produsen karena keuntungan ekonomi
yang mereka peroleh nol. Sementara itu, monopoli murni direstriksi dengan
undang-undang karena menghasilkan rente ekonomi yang terlalu besar bagi
produsen. Meski kita masih menemukan kedua kondisi itu, yang sering terjadi
adalah persaingan tidak sempurna.
Dalam persaingan tidak sempurna, kita dihadapkan pada kemungkinan
munculnya kolusi atau justru persaingan antarprodusen. Kolusi sistematis
dapat sangat merugikan konsumen, namun persaingan yang tidak terkendali dapat
menyebabkan produsen bangkrut. Interaksi, baik kolusi maupun persaingan
antarprodusen, menjadi persoalan dilematis.
Pendekatan yang populer dalam I-O (Industrial Organization)
adalah SCP (Structure Conduct Performance) yang digagas oleh Mason, ekonom
dari Harvard University, akhir 1930-an. Ia mengembangkan pembahasan
Chamberlin tentang kekuatan monopoli.
Pendekatan Mason menempatkan struktur pasar di satu sisi dan
perilaku produsen yang berpengaruh pada keberhasilan pasar mencapai
kesejahteraan umum di sisi lainnya. Setelah empat decade menjadi arus utama,
pendekatan ini mulai menghadapi kegaagalan karena tidak mampu mengakomodasi
interaksi antarprodusen.
Beberapa ekonom dari University of Chicago, seperti Posner, Bork,
dan Peltzman, berusaha memperbaiki kelemahan itu. Namun, mereka juga belum
mampu merumuskan interaksi antarprodusen dalam “bahasa” yang tepat. Hingga
akhirnya Schelling, Selten, dan Harsanyi memberi kontribusi penting yang
memungkinkan teori permainan menjadi sebuah “bahasa” dalam memodelkan
interaksi tersebut. Mereka mengembangkan pemikiran yang digagas oleh Von
Neumann, Morgenstern, dan Nash. Kini, interaksi antar produsen yang
diterjemahkan ke dalam teori permainan menjadi pendekatan yng biasa digunakan
dalam pembahasan Industrial Organization.
Awalnya, Mudrajad masih menggunakan pendekatan
structure-conduct-performance. Namun, ia kemudian mengesampingkan interaksi
antarprodusen dan menawarkan pendekatan spasial. Di sini, spasial diartikan
sebagai ruang yang mengacu pada aspek geografis atau daerah di mana industri
kemudian dibangun.
Mudrajad berargumen bahwa ilmu ekonomi arus utama cenderung
mengabaikan dimensi spasial. Padahal, pengelompokan industri secara geografis
berperan penting untuk menstimulasi sektor yang memiliki keunggulan
kompetitif. Kondisi ini mendorong terbentuknya konsentrasi spasial dalam
industri.
Meski perkembangan terkini I-O menggunakan teori permainan,
belakangan popular dikembangkan teori neoklasik, keperilakuan, dan radikal.
Teori neoklasik mengasumsikan adanya persaingan sempurna dan fair sehingga
terjadi efisiensi, yang didukung oleh informasi dan rasionalitas sempurna
untuk menetapkan lokasi optimal yang memaksimalkan keuntungan.
Teori keperilakuan menekankan adanya perbedaan dalam tujuan,
preferensi, pengetahuan, kemampuan, dan rasionalitas dari pengambil keputusan
terkait dengan penetapan lokasi industri. Teori ini mencoba membuat teori
neoklasik lebih realistis dengan mengakomodasi isu preferensi local dan
struktur industri.
Teori yang terakhir, teori radikal, menyatakan bahwa persaingan
tidak secara otomatis menjamin hasil yang secara sosial diinginkan, bahkan
menciptakan ketidakstabilan dan persaingan tidak sehat. Kondisi ekonomi
politik sangat berpengaruh terhadap penetapan lokasi industri.
Teoretis dan
Pragmatis
Pada bagian akhir bukunya, Mudrajad menyatakan bahwa pemerintah
saat ini mempunyai peluang emas untuk membuat beberapa perubahan mendasar.
Pertama, menjadikan investasi dan ekspor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi,
bukan lagi konsumsi.
Kedua, menjadikan birokrat di pusat dan daerah sebagai
fasilitator bagi dunia binis. Kemudian, yang ketiga adalah membuat rencana
reformasi yang komprehensif dan berjangka menengah, setidaknya lima tahun
mendatang.
Guru besar yang juga terlibat dalam perancangan pembangunan
kompetensi inti daerah ini menyimpulkan pentingnya kebijakan yang lebih
mendukung indutrialisasi berperspektif spasial. Artinya, pemerintah
seharusnya mulai mengatur penempatan industri sehingga bisa dikembangkan
dengan memanfaatkan sumber daya produktif di daerah.
Ada yang kurang lengkap jika membicarakan pembangunan industri
berperspektif spasial tanpa memberi perhatian pada interaksi antardaerah.
Interaksi yang bisa menjadi kekuatan pembangunan nasional belum ditempatkan
sebagai strategi.
Sebagaimana dinyatakan dalam hukum pertama geografi Tobler:
Segala sesuatu terkait dengan sesuatu lainnya, tetapi keterkaitannya semakin
tinggi jika jaraknya semakin dekat. Selain secara fisik, jarak juga bisa
didefinisikan sebagai transaksi atau hubungan ekonomi antardaerah. Tanpa dipayungi
dengan pembangunan nasional, industri-industri daerah yang kuat belum tentu
membawa kesejahteraan bersama. Kondisi ini berpotesi memicu penguatan
sentimen kedaerahan jika tidak ditangani secara baik.
Peresensi memberi beberapa kritik tajam terhadap buku ini.
Pertama, pemaparan yang kurang tuntas, baik dari sisi teori maupun terapan,
memunculkan keambiguan apakah buku Ekonomika Industri Indonesia ditujukan
untuk menjabarkan ilmu ekonomi industry atau menawarkan perspektif baru bagi
pembangunan industri nasional.
Kedua, di satu sisi, paparan teoretis yang dimunculkan masih
terkesan sekadar menjadi pelengkap agar karakter ilmiah ilmiah buku ini tidak
hilang. Di sisi lain, penjelasan pragmatis yang didukung dengan penelitian
empiris belum dirangkai menjadi kesatuan kesimpulan yang saling menguatkan.
Menuju 2030
Sebagai kritik ketiga, Mudrajad yang meraih gelar doctor di
bidang manajemen memang telah menawarkan jalan alternative untuk membangun
industry nasional. Meski demikian, ia tidak secara tegas menyatakan bahwa
Indonesia bisa menjadi negara industry pada 2030 mendatang.
Keinginan menjadikan Indonesia sebagai negara industry mungkin
baik. Akan tetapi, rasanya kita perlu merenungkan kisah yang diteulis Frederic
Bastiat, The Broken Window, pada tahun 1850.
Kira-kira demikian kisahnya. Seorang ayah mendapati putranya
memecahkan sebuah kaca jendela. Awalnya, orang-orang yang menyaksikan
peristiwa itu bersimpati kepada sang Ayah, yang harus membayar enam franc
untuk mengganti kaca yang pecah. Namun, kemudian mereka berpikir bahwa
mungkin kaca jendela yang pecah baik untuk bisnis kaca.
Bastiat menulis, “Itulah yang terlihat”. Perusakan mendorong
peningkatan bisnis kaca jendela. Kemudian, Bastiat bertanya, “Apa yang tidak
terlihatt?” Bastiat menunjukkan bahwa sang Ayah tidak lagi memiliki enam
franc untuk membeli sepatu atau hbuku untuk perpustakaannya.
Visi Indonesia 2030 dinyatakan oleh penggagasnya dibangun dengan
rasa optimisme yang rasional dalam memandang masa depan yang lebih baik.
Didalamnya, terdapat sinergi tiga komponen, yaitu pengusaha, birokrat, dan
akademisi. Kita sudah melihat pengusaha yang menjadi birokrat, atau
sebaliknya. Juga akademisi yang menjadi birokrat, atau sebaliknya. Semoga
para akademisi tidak berniat menjadi pengusaha.[12]
|
IV.
KESIMPULAN
Merensensi buku
adalah kegiatan dengan memberikan peniliaian terhadap sebuah buku,
menginformasikan data buku kepada masyarakat melalui media massa (media cetak
atau elektronik).
Menulis
resensi sebagai salah satu upaya memperkenalkan suatu buku atau pementasan
kepada orang lain yang belum membaca atau belum menyaksikan sehingga setelah
membaca resensi orang tersebut tergerak hatinya untuk menyaksikan atau membaca
karya orang lain. Dari hal ini maka tujuan meresensi menjadi meluas,
diantaranya sebagai salah satu promosi suatu karya kepada khalayak yang belum
mengetahui karya tersebut.Dari hal ini maka kita mengenal selain resensi buku
dikenal juga resensi film, resensi drama, pementasan, music dan sebagainya.
Dengan
tujuan-tujuan penulisan risensi diharapkan dapat memperjelas pengertian resensi
dan dapat memberikan gambaran bagaimana seharusnya menulis resensi itu. Hal
lainyang perlu diingat adalah publikasi karya tersebut. Oleh karena itu resensi
diharapkan dapat diketahui oleh masyarakat banyak, maka tulisan resensi itu biasanya
dimuat di media massa.
Bentuk
resensi yang paling popular adalah resensi buku atau timbangan buku. Resensi
buku merupakan salah satu cara membudidayakan minat baca terhadap buku baru.Pada
saat membuat dan menyusun resensi resentator harus betul-betul menguasai dan
mengetahui bahan yang akan diresensi. Dengan demikian karangan resensi tidak
hanya mengungkapkan segala sesuatu yang terdapat di dalam karya tersebut,
melainkan mencakup pula uraian perbandingan dengan karya-karya lain yang
sejenisnya. Begitu pula dengan penulis harus memperkaya isi tulisan.
Dengan
memahami beberapa hal langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh seorang
peresensi, diharapkan akan membantu memberikan arah dan gambaran didalam
membuat resensi. Kadang-kadang memang terasa sulit sekali jika akan memulai
membuat resensi tanpa mengetahui apa yang harus dikerjakan dan bagaimana
seharusnya menulis resensi.
V.
PENUTUP
Demikian makalah yang telah kami susun, semoga bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya dan bagi pemakalah pada khususnya.Kami menyadari masih
banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran
yang membangun sangat kami harapkan guna kesempurnaan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Kuncoro
Mudrajad, Mahir Menulis Kiat Jitu Menulis Artikel Opini, Kolom & Resensi
Buku, Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 2009.
Nurudin,
Kiat Meresensi Buku di Media Cetak, Jakarta: Murai Kencana, 2009.
DjuharieO
Setiawan, Suherli, Panduan Membuat Karya Tulis, Bandung: Yrama Widy,
2001.
Sukino,
Menulis Itu Mudah, Yogyakarta: Pustaka Populer LKiS, 2010.
Sugihastuti, Bahasa Laporan
Penelitian, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000
Komaruddin, Kamus Istilah Karya
Tulis Ilmiah, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2006
BIODATA SINGKAT PENULIS
1.
Nama :
Nia Muflichana
NIM :
123311034
Jurusan : Kependidikan Islam
Tempat,
Tanggal Lahir : Jepara, 06 Juni 1993
Alamat : Jl. Walisongo no. 34
Rt 01 Rw 01 Jrakah Tugu Semarang
Pendidikan :
- TK : RA Al-Hidayah Margoyoso
- SD/MI : SD Nurul Islam Purwoyoso
- SMP/MTs : KMI Pondok Darussalam
- SMA/MA/SMK : KMI Pondok Darussalam
- S-1 : IAIN Walisongo Semarang
E-mail :
nia.muflichana@yahoo.com
HP :
085712129590
BIODATA SINGKAT PENULIS
2.
Nama :
Rizal Pallevi
NIM :
123311036
Jurusan : Kependidikan Islam
Tempat,
Tanggal Lahir : Kendal 06 Oktober 1994
Alamat : Ds. Jambearum Rt 04
Rw 02 Patebon Kendal
Pendidikan :
- TK :
- SD/MI : SD Negeri 02 Purwosari
- SMP/MTs : SMP Negeri 03 Patebon
- SMA/MA/SMK : MA Negeri Kendal
- S-1 : IAIN Walisongo Semarang
E-mail :
HP :
0857410910801
BIODATA SINGKAT PENULIS
3.
Nama :
Sandi Milzam Fortuna
NIM :
123311037
Jurusan : Kependidikan Islam
Tempat,
Tanggal Lahir : Semarang, 05 Mei 1994
Alamat : Tugurejo Rt 08 Rw 03
Tugurejo Tugu Semarang
Pendidikan :
- TK : TK PGRI Ngaliyan
- SD/MI : SD Nurul Islam Purwoyoso
- SMP/MTs : MTs NU Nurul Huda Mangkang Kulon
- SMA/MA/SMK : SMK Negeri 4 Semarang
- S-1 : IAIN Walisongo Semarang
E-mail :
sandimilzam@yahoo.co.id
HP :
085641314391
[1] O. Setiawan
Djuharie, Suherli, Panduan Membuat Karya Tulis, (Bandung: Yrama Widy,
2001) hlm.21
[2]
Prof. Komaruddin, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah, (Jakarta: PT Bumi
Aksara, 2006) hlm. 282
[3] O. Setiawan
Djuharie, Suherli, Panduan Membuat Karya Tulis, (Bandung: Yrama Widy,
2001) hlm.21
[4] Nurudin, Kiat
Meresensi Buku di Media Cetak, (Jakarta: Murai Kencana, 2009) hlm. 5
[5] O. Setiawan
Djuharie, Suherli, Panduan Membuat Karya Tulis, (Bandung: Yrama Widy,
2001) hlm.21-22
[6] Nurudin, Kiat
Meresensi Buku di Media Cetak, (Jakarta: Murai Kencana, 2009) hlm. 5
[7] O. Setiawan
Djuharie, Suherli, Panduan Membuat Karya Tulis, (Bandung: Yrama Widy,
2001) hlm.22-24
[8] O. Setiawan
Djuharie, Suherli, Panduan Membuat Karya Tulis, (Bandung: Yrama Widy,
2001) hlm. 24-25
[9] Sukino, Menulis
Itu Mudah, (Yogyakarta: Pustaka Populer LKiS, 2010) hlm. 28
[10]
Dra. Sugihastuti, M.S, Bahasa Laporan Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2000) hlm. 81
[11] O. Setiawan
Djuharie, Suherli, Panduan Membuat Karya Tulis, (Bandung: Yrama Widy,
2001) hlm. 23
[12] Prof. Mudrajad
Kuncoro, Ph.D, Mahir Menulis Kiat Jitu Menulis Artikel Opini, Kolom &
Resensi Buku, (Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 2009) hlm.102-105
Tidak ada komentar:
Posting Komentar