Kamis, 30 April 2015

MANAJEMEN PONDOK PESANTREN



MANAJEMEN PONDOK PESANTREN

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Manajemen Pendidikan Islam 

Dosen pengampu : Dr. H. Fatah Syukur, NC. M.Ag
                                                
Disusun Oleh :
                 
Nia Muflichana                           (123311034)
                

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015











       I.            PENDAHULUAN
Pondok pesantren mempunyai peranan yang besar dalam dunia pendidikan, terutama dalam pendidikan Islam. Untuk mencetak generasi penerus yang cerdas dan berakhlaq mulia diperlukan pendidikan yang menyeluruh, dalam arti mencakup semua potensi baik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan yang mengkombinasikan ketiga aspek tersebut, tidak hanya menekankan aspek kecerdasan kognitif semata, akan tetapi juga menekankan pada aspek afektif dan psikomotor, yaitu dengan mengajarkan nilai – nilai dan norma yang sesuai dengan syariat Islam serta membekali para santri dengan ketrampilan – ketrampilan yang berguna bagi kehidupan sehari – hari.
Sebagaimana yang kita ketahui bersama, banyak sekali pondok pesantren yang berkembang di tengah – tengah masyarakat, akan tetapi dari sekian banyak pesantren yang ada dapat digolongkan menjadi dua jenis. Ghazali dalam bukunya Pesantren Berwawasan Lingkungan membagi jenis pesantren sebagai berikut :
Pondok pesantren terbagi menjadi dua macam, pertama yaitu pondok pesantren tradisional pondok yang masih mempertahankan bentuk aslinya dengan semata – mata mengajarkan kitab yang ditulis oleh Ulama abad ke 15 dengan menggunakan bahasa arab. Kedua adalah pondok pesantren modern merupakan pengembangan tipe pesantren karena orientasi belajarnya cenderung mengadopsi seluruh sistem belajar secara klasik dan meninggalkan sistem belajar secara tradisional.
Setiap lembaga pendidikan, baik pendidikan formal ataupun non formal pasti bertujuan untuk mengembangkan peserta didiknya kearah yang lebih baik, salah satu cara agar tujuan tersebut dapat tercapai adalah dengan melaksanakan manajemen pendidikan yang berkualitas dalam suatu lembaga pendidikan. Pondok pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan non formal juga menerapkan manajemen pendidikan agar peserta didik (santri) yang belajar di pondok tersebut dapat berkembang secara maksimal baik dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Tidak mungkin lembaga pendidikan itu mengeluarkan lulusan yang baik kalau manajemennya dalam suatu pondok tersebut tidak baik pula.


    II.            RUMUSAN MASALAH
A.       Apa pengertian manajemen pondok pesantren?
B.        Apa pengertian dari pondok pesantren?
C.        Apa saja elemen – elemen pondok pesantren?
D.       Bagaimana tujuan dan fungsi pondok pesantren?

 III.            PEMBAHASAN
A.       Pengertian Manajemen Pondok Pesantren
            Salah satu unsur yang sangat penting dan menunjang keberhasilan suatu Pondok Pesantren atau instansi dalam kegiatan yang sudah disepakati bersama adalah manajemen. Untuk mencapai sukses, maka tentulah diperlukan suatu komitmen kerja sama yang baik dalam lembaga Pendidikan Pondok Pesantren serta kegiatan – kegiatan yang di manaj dengan baik.
             Adapun pengertian Manajemen menurut M. Manulang terkandung pada tiga arti, yaitu : Pertama, Manajemen suatu proses. Kedua, Manajemen sebagai kolektifitas orang – orang yang melakukan aktifitas manajemen. Ketiga, Manajemen sebagai suatu seni (art) dan sebagai suatu ilmu.[1]
                                 Manajemen secara terminologi mempunyai banyak pengertian yang berbeda dari para pakar ahli dan pakar manajemen, antara lain : Menurut George R. Jerry, Manajemen adalah proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan tenaga manusia dan SDM.
                                Sedangkan menurut J. Panglaykin dan Hasil Tanzil dalam bukunya manajemen suatu pengantar mengatakan bahwa : Manajemen adalah seni kemahiran untuk mencapai hasil yang sebesar-besarnya dengan usaha yang sekecil – kecilnya untuk memperoleh kemakmuran dan kebahagiaan yang setinggi – tingginya serta memberi serius pelayanan yang baik kepada khalayak ramai.[2]
                                 Sudah menjadi common sense bahwa pesantren lekat dengan figure Kiai (atau Buya di Sumatera Barat, Ajengan di Jawa Barat, Bendoro di Madura, dan Tuan Guru di Lombok). Kiai dalam pesantren merupakan figure sentral, otoritatif, dan pusat seluruh kebijakan dan perubahan. Hal ini erat kaitannya dengan dua faktor berikut. Pertama, kepemimpinan yang tersentralisasi pada individu yang bersandar pada kharisma serta hubungan yang bersifat paternalistik. Kebanyakan pesantren menganut pola “serba – mono” : mono – manajemen dan mono – administrasi sehingga tidak ada delegasi kewenangan ke unit – unit kerja yang ada dalam organisasi. Kedua, kepemilikan pesantren bersifat individual (atau keluarga), bukan komunal. Otoritas individu kiai sebagai pendiri sekaligus pengasuh pesantren sangat besar dan tidak bisa diganggu gugat.
                                 Sejalan dengan penyelenggaraan pendidikan formal, memang beberapa pesantren mengalami perkembangan pada aspek manajemen, organisasi, dan administrasi pengelolaan keuangan. Dari beberapa kasus, perkembangan ini dimulai dari perubahan gaya kepemimpinan pesantren ; dari kharismatik ke rasionalistik, dari otoriter – paternalistik ke diplomatik – partisipatif, atau dari laissez faire ke demokratik.[3]        
                                 Anggapan sebagian kalangan bahwa pesantren yang tradisional adalah lembaga pendidikan keagamaan yang dikelola tidak sistematis dan disiplin tidak sepenuhnya benar. Sebab ada beberapa pesantren yang menunjukkam sebaliknya. Pengelolaan secara sistematis berarti lembaga tersebut menggunakan prosedur baku dalam pengelolaan sistem administrasi, sebagaimana tampak dari tertatanya komponen – komponen administrasi, baik yang bersifat komponen keras (hardware) maupun komponen lunak (software).
                                 Dengan sistem administrasi yang bagus maka data personal seperti jumlah kyai / pengasuh, guru / ustadz, dan santri dapat diketahui dengan baik dan teliti. Begitu juga mengenai data fisik seperti jumlah unit pemondokan, ruang kelas, perpustakaan, perkantoran, pertokoan, dan koperasi, balai kesehatan dan kantin, ataupun data nonfisik seperti program pendidikan dan pembinaan santri baik pada lingkup sistem ma’hadiyah dan madrasiyah, serta pengelolaan keuangan dapat diaudit dan dievaluasi.
                                 Kesistematisan pengelolaan pesantren tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan merupakan alasan bagi wali santri untuk memondokkan anak – anak mereka di pesantren. Bagi mereka, pengelolaan pesantren secara sistematis menjadikan aktivitas belajar santri hak dan kewajiban santri menjadi teratur dan terkontrol dengan baik. Artinya, wali santri merasa tertarik memondokkan anak – anak di pesantren bukan sekedar berdasarkan alasan agar anak bisa belajar ilmu agama saja, tetapi lebih dari itu tindakan memondokkan anak dilakukan karena mereka merasa cukup memahami kondisi lembaga pesantren, sehingga timbul kepercayaan terhadap pesantren ebagai tempat yang layak bagi pendidikan anak – anak mereka. 
                                 Ungkapan bahwa pesantren sangat disiplin dalam menerapkan peraturan merupakan hal yang sudah mafhum bagi komunitas wali santri. Dengan kedisiplinan yang ketat itu akan menghindarkan hal – hal yang bisa menganggu konsentrasi belajar para santri. Mereka tidak diijinkan melihat tayangan TV, membawa atau mendengarkan radio, membaca koran atau majalah, serta memiliki handphone.
                                 Kalau mau bersifat lebih fair, kedisiplinan hakikatnya merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan program – program pendidikan pesantren. Kedisiplinan dalam dunia pesantren diterapkan baik dalam pelaksanaan program – program pendidikan maupun nonpendidikan, dan tidak hanya diberlakukan bagi santri tetapi juga terhadap seluruh pengurus beserta para asatidz.
                                 Banyak media atau sumber informasi yang dapat diakses oleh wali santri untuk melihat tingkat kedisiplinan pesantren. misalnya dari majalah pesantren, melalui alumni, dan ada pula wali santri yang memperoleh informasi dari anaknya. Biasanya ketika mereka sedang liburan dan pulang ke rumah masing – masing dan bercerita banyak hal tentang peraturan – peraturan yang harus ditaati dan kalau melanggar akan mendapat iqob (sanksi).
                                 Penerapan peraturan pesantren yang sangat ketat dan program – program pesantren yang dilaksanakan secara disiplin menjadikannya sebagai institusi yang berpengaruh. Fenomena ini menunjukkan bahwa pesantren dalam batas – batas tertentu telah mampu merespon berbagai perubahan sosial melalui penerapan sistem pengelolaan pesantren secara institusional yang inovatif.[4]
 Salah satu bagian terpenting dalam manajemen pesantren adalah berkaitan dengan pengelolaan keuangan pesantren. Dalam pengelolaan keuangan akan menimbulkan permasalahan yang serius apabila pengelolaanya tidak baik.[5] Pengelolaan keuangan pesantren yang baik sebenarnya merupakan upaya melindungi personil pengelolaan pesantren (kyai, pengasuh, ustadz, atau pengelola pesantren lainya) dari pandangan yang kurang baik dari luar pesantren.[6] Selama ini banyak pesantren yang tidak memisahkan antara harta kekayaan pesantren dengan harta milik individu, walaupun disadari bahwa pembiayaan pesantren justru lebih banyak bersumber dari kekayaan individu. Namun dalam rangka pelaksanaan manajemen yang baik sebaiknya diadakan pemilahan antara harta kekayaan pesantren dengan harta milik individu, agar kelemahan dan kekurangan pesantren dapat diketahui secara transparan oleh pihak-pihak lain, termasuk orang tua santri.
B.        Pengertian Pondok Pesantren
Pesantren dan santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti : Guru mengaji, sumber lain mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa India Shastri dari akar kata Shastra, yang berarti buku – buku suci, buku agama atau buku – buku tentang ilmu pengetahuan.[7]
Pondok pesantren adalah perpaduan dua kata yang dirangkaikan menjadi satu terdiri dari kata Pondok dan Pesantren. Sampai saat ini masih ada perbedaan pendapat mengenai asal – usul tentang pondok pesantren yaitu, ada yang mengatakan berasal dari India (Hindu) dan ada pula yang mengatakan berasal dari Arab. Mastuhu juga mendefinisikan pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam dengan menekan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman perilaku sehari – hari.[8]
Sedangkan menurut Zamakhsyari Dhofier istilah Pondok barangkali berasal dari pengertian “asrama – asrama para santri yang disebut Pondok atau tempat tinggal yang dibuat dari “bambu” atau barangkali berasal dari kata Arab, Funduq, yang berarti “Hotel atau asrama”.[9]
Sedangkan menurut Manfred Ziemek Pesantren adalah gabungan kata “Sant (Manusia Baik)” dihubungkan dengan suku kata “tra (Suka Menolong)”, sehingga kata Pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik – baik.[10]
Pesantren tetap berpegang pada prinsip awalnya, tidak mudah terpengaruh terhadap perjalanan arus budaya. Hal inilah yang menyebabkan Pesantren tetap eksis di dalam perjalanannya. Bahkan karena menyadari arus yang deras itulah yang menyebabkan pihak luar justru melihat “keunikan” dari pesantren sebagai wilayah sosial yang netral, yang mempunyai kekuatan pesistensi terhadap arus globalisasi.[11]

C.       Elemen – elemen Pondok Pesantren
            Pondok pesantren sebagai sebuah lembaga pasti memiliki elemen yang ada di dalamnya. Setidaknya ada lima elemen, antara lain :
1.      Masjid
      Masjid pada hakekatnya merupakan sentral kegiatan muslimin baik dalam dimensi ukhrawi maupun duniawi dalam ajaran Islam, karena pengertian yang lebih luas dan maknawi masjid memberikan indikasi sebagai kemampuan seorang abdi dalam mengabdi kepada Allah yang disimbolkan sebagai adanya masjid (tempat sujud). Atas dasar pemikiran itu dapat difahami bahwa masjid tidak hanya terbatas pada pandangan materialistik, melainkan pandangan idealistik immaterialistik termuat didalamnya.
      Pemikiran materialistik mengarah kepada keberadaan masjid sebagai suatu bangunan yang dapat ditangkap oleh mata. Dalam hal ini secara sederhana masjid adalah tempat sujud. Sujud adalah symbol kepatuhan seorang hamba kepada Khaliqnya. Oleh karena itu seluruh kegiatan yang mengambil tempat di masjid tentu memiliki nilai ibadah yang tinggi. Artinya proses kegiatan itu hanya mengharapkan keridhoan Allah yang bersifat Ilahiyah, berkaitan dengan pahala dan balasan dari Allah.
      Didunia pesantren masjid dijadikan ajang atau sentral kegiatan pendidikan Islam baik dalam pengertian modern maupun tradisional. Dalam konteks yang lebih jauh masjidlah yang menjadi pesantren pertama, tempat berlangsungnya proses belajar – mengajar adalah masjid. Dapat juga dikatakan masjid identik dengan pesantren. Seorang kyai yang ingin mengembangkan sebuah pesantren biasanya pertama – tama akan mendirikan masjid di dekat rumahnya.
       Paling tidak didirikan surau di sebelah rumah kyai yang kemudian dikembangkan menjadi masijd sebagai basis berdirinya pondok pesantren. Di dalam masijd para santri dibina mental dan dipersiapkan agar mampu mandiri dibidang ilmu keagamaan. Oleh karena itu masjid di samping dijadikan wadah (pusat) pelaksanaan ibadah juga sebagai tempat latihan. Latihan seperti muhadharah, qiro’ah dan membaca kitab yang ditulis oleh para ulama abad 15 (pertengahan) yang dikenal sebagai kitab kuning yang merupakan salah satu ciri pesantren. Pelaksanaan kajiannya dengan cara bandongan, sorogan, dan wetonan, pada hakekatnya merupakan metode klasik yang dilaksanakan dalam proses belajar – mengajar dengan pola seorang kyai langsung bertatapan dengan santrinya dalam mengkaji dan menelaah kitab – kitab tersebut.[12]
2.      Pondok
       Setiap pesantren pada umumnya memiliki pondokan. Pondok dalam pesantren pada dasarnya merupakan dua kata yang sering penyebutannya tidak dipisahkan menjadi “Pondok Pesantren”. yang berarti keberadaan pondok dalam pesantren merupakan wadah penggemblengan, pembinaan dan pendidikan serta pengajaran ilmu pengetahuan.
       Kedudukan pondok bagi para santri sangatlah esensial sebab didalamnya santri tinggal belajar dan ditempa diri pribadinya dengan control seorang ketua asrama atau kyai yang memimpin pesantren itu. Dengan santri tinggal di asrama berarti dengan mudah kyai mendidik dan mengajarkan segala bentuk jenis ilmu yang telah ditetapkan sebagai kurikulumnya. Begitu pula melalui pondok santri dapat melatih diri dengan ilmu – ilmu praktis seperti kepandaian berbahasa : Arab dan Inggris juga mampu menghafal Al – Qur’an begitu pula ketrampilan yang lain. Sebab di dalam pondok pesantren santri saling kenal – mengenal dan terbina kesatuan mereka untuk saling isi – mengisi dan melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan.  
3.      Kyai
             Ciri yang paling esensial bagi suatu pesantren adalah adanya seorang kyai. Kyai pada hakekatnya adalah gelar yang diberikan kepada seseorang yang mempunyai ilmu di bidang agama dalam hal ini agama Islam. Terlepas dari anggapan kyai sebagai gelar yang sacral, maka sebutan kyai muncul di dunia pondok pesantren. Dalam tulisan ini kyai merupakan suatu personifikasi yang sangat erat kaitannya dengan suatu pondok pesantren.
              Keberadaan kyai dalam pesantren sangat sentral sekali. Suatu lembaga pendidikan Islam disebut pesantren apabila memliki tokoh sentral yang disebut kyai. Jadi kyai di dalam dunia pesantren sebagai penggerak dalam mengemban dan mengembangkan pesantren sesuai dengan pola yang dikehendaki. Di tangan sorang kyailah pesantren itu berada. Oleh karena itu kyai dan pesantren merupakan dua sisi yang selalu berjalan bersama. Bahkan “kyai bukan hanya pemimpin pondok pesantren tetapi juga pemilik pondok pesantren”. sedangkan sekarang kyai bertindak sebagai koordinator.[13]
4.      Santri
             Istilah santri hanya terdapat di pesantren sebagai pengejawantahan adanya peserta didik yang haus akan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang kyai yang memimpin sebuah pesantren. Oleh karena itu santri pada dasarnya berkaitan erat dengan keberadaan kyai dan pesantren.
              Di dalam proses belajar mengajar ada dua tipologi santri yang belajar di pesantren berdasarkan hasil penelitian Zamakhsyari Dhofier :
a.      Santri Mukim
       Santri Mukim yaitu santri yang menetap, tinggal bersama kyai dan secara aktif menuntut ilmu dari seorang kyai. Dapat juga secara langsung sebagai pengurus pesantren yang ikut bertanggung jawab atas keberadaan santri lain. Setiap santri yang mukim telah lama menetap dalam pesantren secara tidak langsung bertindak sebagai wakil kyai.
       Ada dua motif seorang santri menetap sebagai santri mukim :
1)      Motif menuntut ilmu artinya santri itu datang dengan maksud menuntut ilmu dari kyainya.
2)      Motif menjunjung tinggi akhlak, artinya seorang santri belajar secara tidak langsung agar santri tersebut setelah di pesantren akan memiliki akhlak yang terpuji sesuai dengan akhlak kyainya.
b.      Santri Kalong
        Santri Kalong pada dasarnya adalah seorang murid yang berasal dari desa sekitar pondok pesantren yang pola belajarnya tidak dengan jalan menetap di dalam pondok pesantren, melainkan semata – mata belajar dan secara langsung pulang ke rumah setelah belajar di pesantren.
        Sebuah pesantren yang besar didukung oleh semakin banyaknya santri yang mukim dalam pesantren di samping terdapat pula santri kalong yang tidak banyak jumlahnya.[14]
5.      Pengajaran Kitab – kitab Islam Klasik
              Kitab – kitab Islam klasik biasanya dikenal dengan istilah kuning yang terpengaruh oleh warna kertas. Kitab – kitab itu ditulis oleh ulama zaman dulu yang berisikan tentang ilmu keislaman seperti : fiqih, hadist, tafsir, maupun tentang akhlaq. 
              Ada dua esensinya seorang santri belajar kitab – kitab tersebut di samping mendalami isi kitab maka secara tidak langsung juga mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa kitab tersebut. Oleh karena itu seorang santri yang telah tamat belajarnya di pesantren cenderung memiliki pengetahuan bahasa Arab. Hal ini menjadi cirri seorang santri yang telah menyelesaikan studinya di pondok pesantren, yakni mampu memahami isi kitab dan sekaligus juga mampu menerapkan bahasa kitab tersebut menjadi bahasanya.[15]
        
D.       Tujuan dan Fungsi Pondok Pesantren
        Tujuan pesantren pada dasarnya adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan banyak tentang ilmu – ilmu agama yang bertujuan membentuk manusia bertaqwa, mampu untuk hidup mandiri, ikhlas dalam melakukan suatu perbuatan, berijtihad membela kebenaran agama Islam. Selain itu juga didirikan Pondok Pesantren pada dasarnya terbagi dua hal :
1.      Tujuan khusus, yaitu memersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dalam ilmu agama yang diajarkan oleh kyai yang bersangkutan serta mengamalkannya dalam masyarakat.
2.      Tujuan umum, yaitu membimbing anak didik untuk menjadi manusia berkepribadian Islam yang sanggup dengan ilmu agamanya menjadi muballigh Islam dalam masyarakat sekitar melalui ilmu dan amalnya.[16]
             Sejak berdirinya pada abad yang sama dengan masuknya Islam hingga sekarang, pesantren telah bergumul dengan masyarakat luas. Pesantren telah berpengalaman menghadapi berbagai corak masyarakat dalam rentang waktu itu. Pesantren tumbuh atas dukungan mereka, bahkan menurut Husni Rahim, pesantren berdiri didorong permintaan (demand) dan kebutuhan (need) masyarakat, sehingga pesantren memiliki fungsi yang jelas.[17]  
                                 Dimensi fungsional pondok pesantren tidak bisa dilepas dari hakekat dasarnya bahwa pondok pesantren tumbuh berawal dari masyarakat sebagai lembaga informal desa dalam bentuk yang sangat sederhana. Oleh karena itu perkembangan masyarakat sekitarnya tentang pemahaman keagamaan (Islam) lebih jauh mengarah kepada nilai – nilai normatif, edukatif, progresif.
                                Adanya fenomena sosial yang nampak ini menjadikan pondok pesantren sebagai lembaga milik desa yang tumbuh dan berkembang dari masyarakat desa itu, cenderung tanggap terhadap lingkungannya, dalam arti kata perubahan lingkungan desa tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dari pondok pesantren. Oleh karena itu adanya perubahan dalam pesantren sejalan dengan derap pertumbuhan masyarakatnya, sesuai dengan hakekat pondok pesantren yang cenderung menyatu dengan masyarakat desa. Masalah menyatunya pondok pesantren dengan desa ditandai dengan kehidupan pondok pesantren yang tidak ada pemisahan antara batas desa dengan struktur bangunan fisik pesantren yang tanpa memiliki batas tegas. Tidak jelasnya batas lokasi ini memungkinkan untuk saling berhubungan antara kyai dan santri serta anggota masyarakat.[18]
                                Dengan kondisi lingkungan desa dan pesantren yang sedemikian rupa, maka pondok pesantren memiliki fungsi :
1.   Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan
            Berawal dari bentuk pengajian yang sangat sederhana, pada akhirnya pesantren berkembang menjadi lembaga pendidikan secara regular dan diikuti oleh masyarakat, dalam pengertian memberi pelajaran secara material maupun imaterial, yakni mengajarkan bacaan kitab – kitab yang ditulis oleh ulama – ulama abad pertengahan dalam wujud kitab kuning. Titik tekan pola pendidikan secara material itu adalah diharapkan setiap santri mampu menghatamkan kitab – kitab kuning sesuai dengan target yang diharapkan yakni membaca seluruh isi kitab yang diajarkan segi materialnya terletak pada materi bacaannya tanpa diharapkan pemahaman yang lebih jauh tentang isi yang terkandung di dalamnya. Jadi sasarannya adalah kemampuan bacaan yang tertera wujud tulisannya.
            Sedang pendidikan dalam pengertian immaterial cenderung berbentuk suatu upaya perubahan sikap santri, agar santri menjadi seorang yang pribadi yang tangguh dalam kehidupannya sehari – hari. Atau dengan kata lain mengantarkan anak didik menjadi dewasa scara psikologik. Dewasa dalam bentuk psikis mempunyai pengertian manusia itu dapat dikembangkan dirinya kea rah kematangan pribadi sehingga memiliki kemampuan yang komprehensip dalam mengembangkan dirinya.

2.   Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Dakwah
Pengertian sebaai lembaga dakwah benar melihat kiprah pesantren dalam kegiatan melakukan dakwah dikalangan masyarakat, dalam arti kata melakukan suatu aktifitas menumbuhkan kesadaran beragam atau melaksanakan ajaran – ajaran agama secara konsekuen sebagai pemeluk agama Islam.
Sebenarnya secara mendasar seluruh gerakan pesantren baik di dalam maupun di luar pondok adalah bentuk – bentuk kegiatan dakwah, sebab pada hakekatnya pondok pesantren berdiri tak lepas dari tujuan agama secara total. Keberadaan pesantren di tengah masyarakat merupakan suatu lembaga yang bertujuan menegakkan kalimat Allah dalam pengertian penyebaran ajaran agama Islam agar pemeluknya memahami Islam dengan sebenarnya. Oleh arena itu kehadiran pesantren sebenarnya dalam rangka dakwah Islamiyah. Hanya saja kegiatan – kegiatan pesantren dapat dikatakan sangat beragam dalam memberikan pelayanan untuk masyarakatnya. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa seseorang tidak lepas dari tujuan pengembangan agama.

3.   Pondok Pesantren Sebagai Lembaga Sosial
Fungsi pondok pesantren sebagai lembaga sosial menunjukkan keterlibatan pesantren dalam menangani masalah – masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Atau dapat juga dikatakan bahwa pesantren bukan saja sebagai lembaga pendidikan dan dakwah tetapi lebih jauh daripada itu ada kiprah yang besar dari pesantren yang telah disajikan oleh pesantren untuk masyarakatnya.
Pengertian masalah – masalah sosial yang dimaksud oleh pesantren pada dasarnya bukan saja terbatas pada aspek kehidupan duniawi melainkan tercakup di dalamnya masalah – masalah kehidupan ukhrawi, berupa bimbingan rohani yang menurut Sudjoko Prasodjo merupakan jasa besar pesantren tehadap masyarakat desa yakni :
a)         Kegiatan tabligh kepada masyarakat yang dilakukan dalam kompleks pesantren
b)         Majelis Ta’lim atau pengajian yang bersifat pendidikan kepada umum.
c)         Bimbingan hikmah berupa nasehat kyai pada orang yang datang untuk diberi amalan – amalan apa yang harus dilakukan untuk mencapai suatu hajat, nasehat – nasehat agama dan sebagainya.[19]
    
 IV.            ANALISIS
                        Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang membahas dan mengkaji pendidikan keagamaan terutama agama Islam. Keberadaan pesantren telah lama tumbuh dan berkembang di masyarakat, dengan pengajaran yang modern dalam mengembangkan kualitas pendidikannya untuk menjadikan santriwan dan santriwati yang sesuai dengan tujuan pendidikan dalam pesantren itu sendiri. Pondok pesantren merupakan suatu lembaga pendidikan islam yang didalamnya terdapat seorang kiai (pendidik) yang mengajar dan mendidik para santri (peserta didik) dengan sarana masjid yang digunakan untuk menyelenggarakan pendidikan terebut, serta didukung adanya pemondokan atau asrama sebagai tempat tinggal para santri.
                        Pesantren memiliki tingkat integrasi yang tinggi dengan masyarakat sekitarnya, dan menjadi rujukan moral bagi masyarakat umum, terutama pada kehidupan moral keagamaan. Dan di dalam Pondok Pesantren terdapat Manajemen Pondok Pesantren yang merupakan proses kegiatan dalam menangani, mengelola, membawa, mengembangkan baik di dalam pendidikannya ataupun yang lainnya di dalam Pondok Pesantren.
                        Tujuan pendidikan pesantren adalah menciptakan kepribadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, berakhlak mulia bermanfaat bagi masyarakat atau berhikmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau menjadi abdi masyarakat mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat Islam di tengah – tengah masyarakat dan mencintai ilmu.
    V.            KESIMPULAN
Di dalam lembaga pendidikan pondok pesantren, diperlukan suatu komitmen kerja sama yang baik serta kegiatan – kegiatan yang di manaj dengan baik, karena hakikatnya merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan program – program pendidikan pesantren.
Ada beberapa ciri yang secara umum dimiliki oleh pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan sekaligus sebagai lembaga sosial yang secara informal itu terlibat dalam pengembangan masyarakat pada umumnya. Dan terdapat lima elemen pondok pesantren yang melekat atas dirinya yang meliputi : masjid, pondok, kyai, santri, dan pengajaran kitab – kitab Islam klasik.
Tujuan pesantren pada dasarnya adalah sebuah lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan banyak tentang ilmu – ilmu agama yang bertujuan membentuk manusia bertaqwa, mampu untuk hidup mandiri, ikhlas dalam melakukan suatu perbuatan, berijtihad membela kebenaran agama Islam.
Adapun fungsi dari pondok pesantren :
1)         Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan
2)         Pondok Pesantren sebagai Lembaga Dakwah
3)         Pondok Pesantren sebagai Lembaga Sosial

 VI.            PENUTUP
Demikian makalah ini dibuat, semoga bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi pemakalah pada khususnya. Pemakalah menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan guna kesempurnaan makalah selanjutnya.

     
     


























DAFTAR PUSTAKA

Arifin, HM dan Hasbullah. 1996. Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta : PT. Raja Grafindo Perkasa.
Dhofier, Zamakhsyari. 1982.  Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan hidup Kyai, Jakarta : LP3ES.
Dhofier, Zamakhsyari. 2011. Tradisi Pesantren, Jakarta : LPEES.

Ghazali, M. Bahri. 1996. Pesantren Berwawasan Lingkungan, Jakarta : CV. Prasasti.
Ghazali, M. Bahri. 2001.  Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.

Manullang, M. 1996. Dasar – dasar Manajemen, Jakarta : Ghalia Indonesia.

Mastuhu. 1994.  Dinamika sistem pendidikan Pesantren, Jakarta : INIS.
Masyhud, Sulthon, dan Moh. Khusnurdilo. 2003.  Manajemen Pondok Pesantren, Jakarta : Diva       Pustaka.

Qomar, Mujamil. 2002. Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, Jakarta : Erlangga.

Ridwan Lubis, Muhammad. 1992. Pemikiran Soekarno Tentang Islam, Jakarta : C.V. Mas Agung

Sulaiman, In’am. 2010.  Masa Depan Pesantren, Malang : Madani.  

Tanzil dan Panglaykin. 1999. Manajemen Suatu Pengantar, Jakarta : Ghalia Indonesia.
YAPPI, MU. 2008.  Manajemen Pengembangan Pondok Pesantren, Jakarta: Media Nusantara.
Ziemek, Manfred. 1986. Pesantren Dalam Perubahan Sosial, Jakarata : P3M 

                           


[1] M. Manullang, Dasar – dasar Manajemen, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1996), hlm. 2
[2] Panglaykin dan Tanzil, Manajemen Suatu Pengantar, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1999), hlm. 27
[3] Sulthon Masyhud, dan Moh. Khusnurdilo, Manajemen Pondok Pesantren, (Jakarta : Diva Pustaka, 2003), hlm. 14 – 15
[4] In’am Sulaiman, Masa Depan Pesantren, (Malang : Madani, 2010), hlm. 84 – 87   
[5] MU YAPPI, Manajemen Pengembangan Pondok Pesantren, (Jakarta: Media Nusantara, 2008), hlm. 77
[6] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta : LPEES, 2011), hlm. 79 – 80
[7] Muhammad Ridwan Lubis, Pemikiran Soekarno Tentang Islam, (Jakarta : C.V. Mas Agung, 1992), hlm. 23
[8] Mastuhu, Dinamika sistem pendidikan Pesantren, (Jakarta : INIS, 1994), hlm. 6
[9] Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, Studi Tentang Pandangan hidup Kyai, (Jakarta : LP3ES, 1982), hlm. 18
[10] Manfred Ziemek, Pesantren Dalam Perubahan Sosial, (Jakarata : P3M, 1986), hlm. 99
[11] M. Bahri Ghazali, Pesantren Berwawasan Lingkungan, (Jakarta : CV. Prasasti, 1996), hlm. 9
[12] M. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 2001), hlm. 18 – 19

[13] M. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 2001), hlm. 19 – 21

[14] M. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 2001), hlm. 22 – 23

[15] M. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 2001), hlm. 24 

[16] HM. Arifin dan Hasbullah, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Perkasa, 1996), hlm. 44
[17] Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi, (Jakarta : Erlangga, 2002), hlm. 22
[18] M. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 2001), hlm. 35
[19] M. Bahri Ghazali, Pendidikan Pesantren Berwawasan Lingkungan, (Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 2001), hlm. 36 – 40

Tidak ada komentar:

Posting Komentar