Kamis, 30 April 2015

PENGELOLAAN KELAS DIKLAT



PENGELOLAAN KELAS DIKLAT 

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Manajemen Pendidikan dan Pelatihan 

Dosen pengampu : Dr. H. Fatah Syukur, NC. M.Ag
 
                                            
Disusun Oleh :
                 
Nia Muflichana                           (123311034)

                
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015











       I.            PENDAHULUAN
Pengelolaan kelas merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditunjukkan untuk menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran yang kondusif dan maksimum. Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan interaksi belajar mengajar yang baik. Tujuan pembelajaran pun dapat dicapai tanpa memerlukan kendala yang berarti. Berikut ini tujuan dari pengelolan kelas yaitu : mewujudkan situasi dan kondisi kelas, menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar, menyediakan dan mengatur fasilitas,  membina dan membimbing. Demi tercapainya keekfektifan dalam pengelolaan kelas, ada hal – hal yang perlu di perhatikan yaitu : guru mengatur tempat duduk sesuai dengan karakteristik peserta didik, volume dan intonasi suara guru dalam proses pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik, tutur kata guru santun, guru menyesuaikan materi pembelajaran dengan kecepatan dan kemampuan peserta didk, guru menciptakan ketertipan, kedisplinan, kenyamanan, keselamatan, dan keputusan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses belajar, guru menghargai pendapat peserta didik.
Pengelolaan kelas memiliki fungsi yang jelas. Tujuan pengelolaan kelas yaitu menciptakan dan menjaga kondisi kelas agar PBM dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan sasarannya. Artinya upaya yang dilakukan oleh guru, agar siswa-siswa yang kemampuannya tidak semuanya sama, dapat mengikuti dan menguasai materi pelajaran yang diajarkan guru. Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu karena secara prinsip guru memegang dua masalah pokok yaitu pengajaran dan pengelolaan kelas. Masalah pengelolaan kelas berkaitan dengan usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi tercapainya tujuan pembelajaran.




    II.            RUMUSAN MASALAH
A.       Apa pengertian dari pengelolaan kelas?
B.        Bagaimana peran guru dalam pengelolaan kelas?
C.        Apa saja faktor – faktor yang mempengaruhi suasana kelas?
D.       Bagaimana prinsip – prinsip dalam pengelolaan kelas?
E.        Apa tujuan pengelolaan kelas yang efektif?

 III.            PEMBAHASAN
A.       Pengertian Pengelolaan Kelas
Kelas adalah ruangan belajar (lingkungan fisik) dan rombongan belajar (lingkungan sosioemosional). Lingkungan fisik meliputi : ruangan kelas, keindahan kelas, pengaturan tempat duduk, pengaturan sarana atau alat – alat lain, dan ventilasi serta pengaturan cahaya. Sedangkan lingkungan sosioemosional meliputi tipe kepemimpinan guru, sikap guru, suara guru, pembinaan hubungan baik dan sebagainya. Pengelolaan kelas adalah menyiapkan kondisi yang optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Sedangkan menurut Winzer (1995) pengelolaan kelas adalah cara – cara yang ditempuh guru dalam menciptakan lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan akademis dan sosial.   
Oleh karena itu, pengelolaan kelas adalah serangkaian tindakan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku peserta didik yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku peserta didik yang tidak diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosioemosional yang positif, serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif. Dengan kata lain, pengelolaan kelas adalah usaha uru untuk menciptakan, memelihara, dan mengembangkan iklim belajar yang kondusif.
Dengan demikian, pengelolaan kelas adalah berbagai usaha yang dilakukan guru dalam menciptakan dan mempertahankan atau mengembalikan kondisi kelas yang optimal sehingga terjadi proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Jadi, proses pembelajaran yang efektif dan efisien dapat terjadi apabila situasi dan kondisi kelas mendukung atau kondusif.
Suasana kelas yang kondusif akan mampu mengantarkan pada prestasi akademik dan nonakademik peserta didik, maupun kelasnya secara keseluruhan. Kelas yang kondusif di antaranya memiliki ciri – ciri : tenang, dinamis, tertib, suasana saling menghargai, saling mendorong, kreativitas tinggi, persaudaraan yang kuat, saling berinteraksi dengan baik, dan bersaing sehat untuk kemajuan. Artinya, kelas dapat diciptakan dan berperan sebagai sumber belajar.[1] 

B.    Peran Guru Dalam Pengelolaan Kelas
                    Dalam pembelajaran di dalam kelas, baik yang bersifat instruksional maupun non-instruksional, akan dapat dicapai bila dapat diciptakan dan dipertahankan kondisi yang menguntungkan bagi siswa. Dalam setiap pembelajaran di kelas, guru diharapkan mampu merencanakan dan mengusahakan agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara maksimal dan aman dari kondisi yang dapat merugikan siswa, baik yang timbul dari siswa itu sendiri maupun dari lingkungan siswa.[2]
                    Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan kompetensinya, guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat yang optimal.

1.      Guru sebagai Sumber Belajar
Peran guru sebagai sumber belajar merupan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Kita bisa menilai baik atau tidaknya seorang guru hanya dari penguasaan materi pelajaran. Dikatakan guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan baik, sehingga benar – benar ia berperan sebagai sumber belajar bagi anak didiknya. Apapun yang ditanyakan siswa sekaitan dengan materi pelajaran yang sedang diajarkannya, ia akan dapat menjawab dengan penuh keyakinan. Sebaliknya, dikatakan guru yang kurang baik manakala ia tidak paham tentang materi yang diajarkannya. Ketidakpahaman tentang materi pelajaran biasanya ditunjukkan oleh perilaku – perilaku tertentu misalnya, tekhnik penyampaian materi pelajaran yang monoton, ia lebih sering duduk di kursi sambil membaca, suaranya lemah, tidak berani melakukan kontak mata dengan siswa, miskin dengan ilustrasi dan lain sebagainya. Perilaku guru yang demikian dapat menyebabkan hilangnya kepercayaan pada diri siswa, sehingga guru akan sulit mengendalikan kelas.   

2.      Guru sebagai Fasilitator
      Sebagai fasilitator guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Sebelum proses pembelajaran dimulai sering guru bertanya : bagaimana caranya agar ia  mudah menyajikan bahan pelajaran? Pertanyaan tersebut sekilas memang ada benarnya. Melalui usaha yang sungguh – sungguh guru ingi agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran dengan baik. Namun demikian, pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran berorientasi pada guru. Oleh sebab itu, akan lebih bagus manakala pertanyaan tersebut diarahkan pada siswa, misalnya apa yang harus dilakukan agar siswa mudah mempelajari bahan pelajaran sehingga tujuan belajar tercapai secara optimal. Pertanyaan tersebut mengandung makna, kalau tujuan mengajar adalah mempermudah siswa belajar. inilah hakikat peran fasilitator dalam proses pembelajaran.

3.      Guru sebagai Pengelola
Sebagai pengelola pembelajaran (learning manajer), guru berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman. Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh siswa.

4.      Guru sebagai Demonstrator
Yang dimaksud dengan peran guru sebagai demonstrator, adalah peran untuk mempertunjukkan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan. Ada dua konteks guru sebagaii demonstrator. Pertama, sebagai demonstrator berarti guru harus menunjukkan sikap – sikap yang terpuji. Dalam setiap aspek kehidupan, guru merupakan sosok ideal bagi setiap siswa. Biasanya apa yang dilakukan guru akan menjadi acuan bagi siswa. Dengan demikian, dalam konteks ini guru berperan sebagai model dan teladan bagi setiap siswa. Kedua, sebagai demonstrator guru harus dapat menunjukkan bagaimana caranya agar setiap materi pelajaran dapat lebih dipahami dan dihayati oleh setiap siswa. Oleh karena itu, sebagai demonstrator erat kaitannya dengan pengaturan strategi pembelajaran yang lebih efektif.  

5.      Guru sebagai Pembimbing
Siswa adalah individu yang unik. Keunikan itu bisa dilihat dari adanya setiap perbedaan. Artinya, tidak ada dua individu yang sama. Walaupun secara fisik mungkin individu memiliki kemiripan, akan tetapi pada hakikatnya mereka tidaklah sama, baik dalam bakat, minat, kemampuan dan sebagainya. Di samping itu, setiap individu juga adalah makhluk yang sedang berkembang. Irama perkembangan mereka tentu tidaklah sama juga. Perbedaan itulah yang menuntut guru harus berperan sebagai pembimbing. Membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang dimilikinya sebagi bekal hidup mereka; membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas – tugas perkembangan mereka.

6.      Guru sebagai Motivator
Dalam proses pembelajaran motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, akan tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya. Motivasi sangat erat hubungannya dengan kebutuhan, sebab memang motivasi muncul karena kebutuhan. Seseorang akan terdorong untuk bertindak manakala dalam dirinya ada kebutuhan. Kebutuhan ini yang menimbulkan keadaan ketidakseimbangan (ketidakpuasan), yaitu ketegangan – ketegangan, dan ketegangan itu akan hilang manakala kebutuhan itu telah terpenuhi. Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa memiliki motivasi dalam belajar. oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa.

7.      Guru sebagai Evaluator 
Sebagai evaluator guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Terdapat dua fungsi dalam memerankan perannya sebagai evaluator. Pertama, untuk menentukan keberhasilan siswa dalam menyerap materi kurikulum. Kedua, untuk menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.[3]

C.   Faktor Yang Mempengaruhi Suasana Kelas
        Suasana kelas dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya adalah keadaan hubungan instruktur dengan partisipan. Faktor-faktor yang diperkirakan berpengaruh kepada keadaan hubungan instruktur – partisipan antara lain : (1) adanya dan berjalannya aturan, baik aturan kelas maupun aturan akademik ; (2) berjalannya sistem penghargaan dan hukuman yang disepakati bersama antara instruktur dengan partisipan ; (3) penguasaan instruktur terhadap teknik pembelajaran aktif ; (4)  penguasaan instruktur terhadap teknik pengembangan motivasi belajar ; (5) penguasaan instruktur terhadap teknik komunikasi ; dan (6) penguasaan instruktur terhadap teknik penguasaan kelas. Penguasaan terhadap berbagai teknik tersebut harus dibarengi dengan penguasaan terhadap bahan atau bidang pelajaran. Kemampuan teknik dan substantif itu akan menempatkan instruktur pada posisinya sebagai pembina kelas.[4]
Hubungan instruktur – partisipan : Dalam pengelolaan kelas, perlu pembinaan hubungan instruktur – partisipan pelatihan sehingga menjadi hubungan yang bersifat profesional. Hubungan profesional adalah hubungan saling menghormati dan saling membantu di antara instruktur dan partisipan, sehingga masing-masing dapat menjalankan perannya menuju ke arah pencapaian tujuan bersama.  Hubungan instruktur – partisipan banyak ditentukan oleh karakteristik pribadi masing-masing secara individual. Karakteristik pribadi instruktur termasuk tanggung jawab, sikap profesional, sikap sosial, dan kesabaran. Karakteristik partisipan termasuk inteligensi, sikap sosial, rasa hormat kepada instruktur, kesadaran akan tujuan, serta karakteristik pribadi yang dibangun oleh lingkungan keluarga dan masyarakat. Karakteristik pribadi dapat membangun hubungan instruktur – partisipan yang bersifat personal, ataupun profesional.

A.       Aturan
Dalam pelatihan ada dua jenis aturan yang perlu ditetapkan, yaitu aturan tentang tata tertib kelas dan akademik. Aturan tentang tata tertib kelas, misalnya aturan tentang keharusan hadir tepat-waktu, kalau tidak dapat masuk kelas harus meminta ijin kepada instruktur atau pengelola program, kalau sakit harus dengan surat keterangan dokter, mematikan telpon genggam selama mengikuti pelajaran, dan sebagainya. Aturan akademik, misalnya keharusan memenuhi jumlah kehadiran tertentu untuk dapat mengikuti ujian mata pelajaran, aturan tentang sertifikasi setelah menyelesaikan program pelatihan, kedisiplinan pelaksanaan tugas-tugas individual dan kelompok, dan sebagainya.

B.     Sistem Penghargaan dan Hukuman
Rewards and Punishment System, atau sistem pemberian penghargaan dan hukuman, untuk selajnutnya disebut SPH, merupakan tatanan yang erat berkaitan dengan suasana kelas. Tatanan ini di satu sisi terkait dengan upaya menumbuhkan motivasi belajar, dengan cara memberikan penghargaan dalam berbagai bentuk kepada siswa yang berhasil baik, atau berbuat sesuai dengan harapan, ketentuan, atau aturan. Di sisi yang lain tatanan ini dimaksudkan untuk menegakkan disiplin di kelas.[5]

C.    Penguasaan Teknik Pembelajaran Aktif
Beberapa pihak menganggap bahwa semua kegiatan belajar adalah belajar aktif. Hal ini disebabkan karena kegiatan belajar tentulah dibarengi dengan kegiatan mendengar, mencatat sambil berpikir tentang apa yang dicatat, berpikir untuk berusaha memahami apa yang dicatat, dan berpikir untuk mengaitkannya dengan lanjutan materi ceramah yang dicatatnya, dan seterusnya.
Lebih dari itu: Belajar aktif menuntut kegiatan pembelajar yang lebih dari itu. Secara fisik ia dituntut untuk melakukan kerja individual, kerja kelompok, diskusi, dan kegiatan-kegiatan gabungan dalam kesatuannya dengan metode ceramah. Secara mental belajar aktif juga menuntut pembelajar untuk melakukan kegiatan kognitif yang lebih tinggi, yaitu analisis, sintesis, dan evaluasi. Ciri-ciri fisik dan ciri mental itu menumbuhkan ciri belajar aktif yang lain, ialah ciri kualitas. Ciri kualitas yang dimaksud di sini adalah persistensi, keterarahan munuju tujuan, dan belajar aktif kreativitas.  

D.    Penguasaan Teknik Motivasi
Yang dimaksud dengan teknik motivasi adalah teknik pembangunan motivasi lewat kegiatan mengajar dalam program pelatihan. Kerangka sajiannya adalah kerangka Model Pengembangan Motivasi. Kerangka model ini digunakan karena teknik mengajar yang akan disajikan pada dasarnya adalah teknik untuk mengembangkan komponen-komponen pembentuk motivasi belajar yang disebutkan dalam model tersebut.[6]

E.     Teknik Komunikasi
Salah satu tradisi pengelolaan kelas adalah tradisi humanistic. Menurut tradisi ini hubungan guru – murid dapat dibina dengan komunikasi yang baik. Tradisi ini yakin bahwa komunikasi dapat mengendalikan tingkah laku murid. Dalam tradisi ini antara lain dikenal Communication Skills Approach, atau pendekatan ketrampilan komunikasi. Dasar pikiran pendekatan ini adalah : komunikasi yang baik akan menumbuhkan self-esteem, dan self-esteem yang baik akan mendorong perbuatan yang baik. Hal ini disebabkan perasaan dihargai oleh guru akan mencegah perbuatan yang kurang baik.

F.     Penguasaan Kelas
Instruktur harus dekat dengan partisipan tetapi di mata partisipan ia tetap harus memiliki otoritas secara profesional. Untuk itu, ia harus berusaha melaksanakan tugasnya dengan baik, sehingga memuaskan diri sendiri, dan memuaskan partisipan. Ia harus mampu mengatasi masalah di kelas yang dapat menghambat pelaksanaan tugas profesionalnya. Partisipan akan menilai kemampuan instruktur ini, dan memberikan apresiasi serta respek kalau instruktur mampu menangani dan mengatasi masalah-masalah yang ada di kelas.[7]

D.   Prinsip Pengelolaan Kelas
Prinsip – prinsip pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut :

a.      Hangat dan Antusias
Hangat dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.

b.      Tantangan
Penggunaan kata – kata, tindakan, cara kerja, atau bahan – bahan  yang menantang akan meningkatkan gairah peserta didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.

c.       Bervariasi
Penggunaan alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian peserta didik. Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.

d.      Keluwesan
Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan peserta didik serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan peserta didik, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.

e.       Penekanan pada Hal – hal yang Positif
Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku peserta didik yang positif daripada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.

f.       Penanaman Disiplin Diri
Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.[8]

Untuk menciptakan ruang kelas yang nyaman dan tidak menghambat pergerakan siswa dan guru dapat mengamati seluruh aktivitas siswa secara mudah, maka perlu setting kelas yang merujuk pada empat prinsip dasar dalam menata kelas belajar :
·            Kurangi Kepadatan di Tempat Lalu-Lalang.
Gangguan dapat terjadi di daerah yang sering dilewati. Daerah ini antara lain area belajar kelompok, bangku siswa, meja guru, dan lokasi penyimpanan pensil, rak buku, computer, dan lokasi lainnya. Pisahkan area ini sejauh mungkin dan pastikan mudah diakses.
·            Pastikan Bahwa Guru dapat dengan Mudah Melihat Semua Siswa.
Tugas manajemen yang penting adalah memonitor semua siswa secara cermat. Untuk itu guru harus dapat melihat semua siswanya yang sedang diajar.
·            Materi Pelajaran dan Perlengkapan Siswa Harus Mudah Diakses.
Ini untuk meminimalkan waktu persiapan dan perapian, dan mengurangi kelambatan dan gangguan aktivitas.
·            Pastikan Semua Siswa Dapat Melihat Semua Presentasi Kelas.
Tentukan di mana Guru dan siswa akan berada saat presentasi kelas diadakan. Untuk aktivitas ini, siswa tidak boleh memindahkan kursi, atau menjulurkan lehernya. Dengan kata lain, pastikan semua siswa duduk pada tempatnya.[9]

Agar tercipta suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan pengaturan dan penataan ruang kelas/belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara kuasa untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam pengaturan perlu diperhatikan hal-hal berikut: Ukuran dan bentuk kelas, bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa, jumlah siswa dalam kelas, jumlah siswa dalam setiap kelompok, jumlah kelompok dalam kelas, komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa pandai dengan siswa kurang pandai, pria dan wanita).[10]

1. Pengaturan Kondisi Ruangan Kelas
Kegiatan belajar mengajar mencakup segala jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakukan, baik secara langsung ataupun tidak, yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan – tujuan pengajaran yang telah digariskan. Adapun faktor – faktor yang harus dilakukan dalam penyelenggaraan kelas, yaitu :
a.   Ventilasi dan Tata Cahaya
   Kondisi – kondisi yang perlu diperhatikan didalam ruang kelas adalah :
1)      Ada ventilasi yang sesuai dengan ruangan kelas
2)      Sebaiknya tidak merokok
3)      Pengaturan cahaya perlu diperhatikan
4)      Cahaya yang masuk harus cukup
5)      Masuknya dari arah kiri, jangan berlawanan dengan bagian depan
b.   Pemeliharaan Kebersihan dan Penataan Keindahan Ruang Kelas
Pemeliharaan Kebersihan
1)      Siswa bergiliran untuk membersihkan kelas
2)      Guru memeriksa kebersihan dan ketertiban dikelas
Penataan Keindahan
1)       Memasang hiasan dinding yang mempunyai nilai edukatif (contohnya Burung Garuda,    Teks   Proklamasi, Slogan Pendidikan, Para Pahlawan, Peta/Globe)
2)       Mengatur tempat duduk siswa, lemari, rak buku, dan semacamnya secara rapi (Untuk penempatan buku diletakkan di depan dan alat peraga di belakang)
3)     Merapikan meja guru dengan memakai taplak meja, vas bunga, dan sebagainya

2.  Pengaturan Tempat Duduk
Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa memerlukaan tempat duduk yang tidak mengganggu siswa, karena kurang aman atau tidak nyaman dipakai. Jika siswa duduk berjam-jam di tempat duduk dengan keadaan tidak cukup aman dan tidak nyaman, mereka tidak akan dapat berpikir tentang pelajaran tersebut dan terus menerus merasakan "siksaan" sebagai akibat dari tempat duduk yang tidak nyaman.
            Pada prinsipnya, kriteria tempat duduk yang memadai adalah tempat duduk yang bisa menunjang kegiatan belajar mengajar, yaitu aman dan nyaman untuk dipergunakan. Di antara aspek yang perlu diperhatikan mengenai tempat duduk di antaranya adalah sebagai berikut :
a.  Segi Keamanan
Guru atau murid yang menempati tempat duduk tersebut benar-benar merasa aman sehingga tidak perlu khawatir akan jatuh atau celaka. Dengan demikian mereka dapat berkonsentrasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung.
b.  Segi Kenyamanan
Kenyamanan di sini bukan berarti tempat duduk itu harus empuk (tetapi jika mampu demikian tidak masalah), melainkan tempat duduk tersebut cukup enak digunakan, dilihat dari alas yang diduduki harus datar dan jangan sampai miring, mempunyai sandaran, tidak terlalu ke depan atau ke belakang. Perbedaan tinggi antara tempat duduk dengan tempat menulis harus memadai.
c.  Segi Ukuran
Agar merasa aman dan nyaman, sebaiknya diperhatikan kondisi tempat duduk yang memenuhi hal-hal berikut :
1)      Tempat duduk guru lebih tinggi dari tempat duduk siswa, agar guru mudah mengawasi setiap kegiatan siswa.
2)      Meja dan kursi untuk siswa sebaiknya :
a)      Terpisah, agar memudahkan pengaturan untuk kegiatan lainnya.
b)      Bentuknya sederhana, kokoh, dan bahannya kuat.
c)      Ukuran daun meja adalah 100cm x 50cm (standar)
d)     Tinggi meja kurang lebih setinggi pinggul siswa.
e)      Tinggi kursi kurang lebih setinggi lutut siswa.
Bentuk dan ukuran tempat yang digunakan sekarang bermacam-macam, ada yang satu tempat duduk untuk beberapa orang, atau hanya untuk seorang siswa. Sebaiknya tempat duduk siswa ukurannya tidak terlau besar, agar mudah diubah-ubah formasi tempat duduknya sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, pada pengajaran dengan cara berdiskusi, maka formasi tempat duduk sebaiknya berbentuk melingkar. Jika pengajaran ditempuh dengan metode ceramah, tempat duduknya sebaiknya berderet memanjang kebelakang atau berbentuk farmasi tapal kuda (pola ini guru berada di tengah siswa). Pola ini dapat digunakan apabila pelajaran banyak memerlukan tanya jawab antara guru dan siswa dan lebih memudahkan saling berkomunikasi atau konsultasi. Di samping susunan meja dan kursi yang fleksibel menurut pola formasi tertentu, khususnya siswa SD/TK pada waktu mengikuti kegiatan belajar mengajar tidak terlalu terpaku duduk di kursi akan tetapi dapat juga duduk di tikar atau karpet yang bergambar atau berabjad, belajar mereka harus disesuaikan dengan kegiatan yang dilaksanakan pada waktu itu, karena siswa TK perlu lebih banyak praktik untuk melatih kecerdasan psikomotorik mereka.[11]

3.  Pengaturan Alat-Alat Pengajaran adalah:[12]
a.  Perpustakaan Kelas
1)      Sekolah yang maju mempunyai perpustakaannya di setiap kelas.
2)      Pengaturanya bersama-sama siswa.
b.  Alat – alat peraga media pengajaran
1)      Alat peraga atau media pengajaran semestinya diletakkan di dalam kelas agar memudahkan dalam penggunaanya.
2)      Pengaturannya bersama-sama siswa.
c.  Papan tulis, kapur tulis, dll
1)      Ukurannya disesuaikan
2)      Warnanya harus kontras
3)      Penempatannya memperhatikan etestika dan terjangkau oleh semua siswa
d.  Papan resensi siswa
1)      Ditempatkan di bagian depan sehingga dapat dilihat oleh semua siswa
2)      Difungsikan sebagaimana mestinya

E.   Tujuan Pengelolaan Kelas Yang Efektif
            Menurut Usman pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus :
1. Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang baik.
2. Tujuan khususnya adalah mengembangkan kemampuan
peserta didik dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang memungkinkan peserta didik bekerja dan belajar, serta membantu peserta didik untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Sedangkan Arikunto (dalam Djamarah 2006) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.[13]
Manajemen kelas yang efektif mempunyai dua tujuan : (1) Membantu siswa menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu siswa yang tidak diorientasikan pada tujuan, dan (2) Mencegah murid mengalami problem akademis dan emosional.[14]
Pengelolaan kelas dalam program pelatihan bertujuan membangun suasana kelas yang kondusif bagi berlangsungnya proses pembelajaran, sehingga dapat dicapai hasil belajar yang sebaik – baiknya. Hasil belajar yang baik akan membantu mengembangkan motivasi belajar partisipan. Keadaan motivasi belajar yang baik mendorong partisipan bukan hanya dapat menerima pelajaran dengan baik, melainkan juga mengembangkannya atas inisiatif sendiri. Dengan kata lain, motivasi belajar yang baik akan menyebabkan terjadinya kegiatan belajar mandiri partisipan.[15]
    
 IV.            ANALISIS
                        Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Definisi ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa. Dalam peranannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Pengelolaan kelas merupakan usaha sadar, untuk mengatur kegiatan proses belajar mengejar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar mengajar.
            Keberhasilan guru mengajar di kelas tidak cukup bila hanya berbekal pada pengetahuan tentang kurikulum, metode mengajar, media pengajaran, dan wawasan tentang materi yang akan disampaikan kepada anak didik. Di samping itu guru harus menguasai kiat manajemen kelas. Dalam mencapai tujuan pengajaran maka diperlukan interaksi antara pendidik dengan anak didknya. Pendidik berusaha mengatur lingkungan belajar bagi anak didik. Untuk itu bagi pendidik diperlukan pemilihan strategi dan metode  mengajar yang tepat sehingga mampu mengelola kelas dengan baik agar tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efesien dalam proses belajar mengajar.
    V.            KESIMPULAN
Pengelolaan kelas adalah serangkaian tindakan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku peserta didik yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku peserta didik yang tidak diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosioemosional yang positif, serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas yang produktif dan efektif.
Dalam setiap pembelajaran di kelas, guru diharapkan mampu merencanakan dan mengusahakan agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara maksimal dan aman dari kondisi yang dapat merugikan siswa, baik yang timbul dari siswa itu sendiri maupun dari lingkungan siswa.
Prinsip-prinsip pengelolaan kelas meliputi: hangat dan antusias, tantangan, bervariasi, keluwesan, penekanan pada hal-hal yang positif, dan penanaman disiplin diri. Pengelolaan kelas dalam program pelatihan bertujuan membangun suasana kelas yang kondusif bagi berlangsungnya proses pembelajaran, sehingga dapat dicapai hasil belajar yang sebaik – baiknya.

 VI.            PENUTUP
Demikian makalah ini dibuat, semoga bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi pemakalah pada khususnya. Pemakalah menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan guna kesempurnaan makalah selanjutnya.





























DAFTAR PUSTAKA

Djamarah, 1996. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta.

Hernawan, Hery, 2006. Pengelolaan Kelas, Bandung: UPI PRESS.

Mukhtar. 2003. Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta : Misaka Galiza.

Mujiman, Haris. 2011. Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Sanjaya, Wina. 2008.  Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta : Kencana.
Syaifurahman dan Tri Ujiati. 2013.  Manajemen Dalam Pembelajaran, Jakarta : PT Indeks.
Warsita, Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran, landasan dan aplikasinya, Jakarta : Rineka Cipta.
https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2012/10/pengelolaan-kelas.pdf, diakses pada tanggal 05 November 2014, pukul 19.34


     
     







[1]Bambang Warsita, Teknologi Pembelajaran, landasan dan aplikasinya, (Jakarta : Rineka Cipta, 2008), hlm. 274 – 275 
[2] Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Misaka Galiza, 2003), hlm. 132
[3] Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Kencana, 2008), hlm. 281 – 290
[4] Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 102
[5] Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri,….. hlm. 102 – 107
[6] Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri,….. hlm. 118 – 121
[7] Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri,….. hlm. 133 – 134
[8] https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2012/10/pengelolaan-kelas.pdf, di akses pada tanggal 05 November 2014, pukul 16.43
[9] Syaifurahman dan Tri Ujiati, Manajemen Dalam Pembelajaran, (Jakarta : PT Indeks, 2013), hlm. 111
[10] Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm. 227
[11] Hery Hernawan, Pengelolaan Kelas, (Bandung: UPI PRESS, 2006), hlm. 9 
[12] Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm. 229

[13] https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2012/10/pengelolaan-kelas.pdf, di akses pada tanggal 05 November 2014, pukul 19.34
[14] Syaifurahman dan Tri Ujiati, Manajemen Dalam Pembelajaran,……….. hlm. 111
[15] Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri,….. hlm. 101 – 102

Tidak ada komentar:

Posting Komentar