PENGELOLAAN
KELAS DIKLAT
MAKALAH
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah: Manajemen Pendidikan dan
Pelatihan
Dosen pengampu :
Dr. H. Fatah Syukur, NC. M.Ag
Disusun Oleh :
Nia
Muflichana
(123311034)
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Pengelolaan
kelas merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru yang ditunjukkan untuk
menciptakan kondisi kelas yang memungkinkan berlangsungnya proses pembelajaran
yang kondusif dan maksimum. Pengelolaan kelas yang baik akan melahirkan
interaksi belajar mengajar yang baik. Tujuan pembelajaran pun dapat dicapai
tanpa memerlukan kendala yang berarti. Berikut ini tujuan dari pengelolan kelas
yaitu : mewujudkan situasi dan kondisi kelas, menghilangkan berbagai hambatan
yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi belajar mengajar, menyediakan dan
mengatur fasilitas, membina dan
membimbing. Demi tercapainya keekfektifan dalam pengelolaan kelas, ada hal –
hal yang perlu di perhatikan yaitu : guru mengatur tempat duduk sesuai dengan
karakteristik peserta didik, volume dan intonasi suara guru dalam proses
pembelajaran harus dapat didengar dengan baik oleh peserta didik, tutur kata
guru santun, guru menyesuaikan materi pembelajaran dengan kecepatan dan
kemampuan peserta didk, guru menciptakan ketertipan, kedisplinan, kenyamanan,
keselamatan, dan keputusan pada peraturan dalam menyelenggarakan proses
belajar, guru menghargai pendapat peserta didik.
Pengelolaan
kelas memiliki fungsi yang jelas. Tujuan pengelolaan kelas yaitu menciptakan
dan menjaga kondisi kelas agar PBM dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan
sasarannya. Artinya upaya yang dilakukan oleh guru, agar siswa-siswa yang
kemampuannya tidak semuanya sama, dapat mengikuti dan menguasai materi
pelajaran yang diajarkan guru. Peran seorang guru pada pengelolaan kelas sangat
penting khususnya dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menarik. Itu
karena secara prinsip guru memegang dua masalah pokok yaitu pengajaran dan
pengelolaan kelas. Masalah pengelolaan kelas berkaitan dengan usaha untuk
menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses
pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien demi tercapainya
tujuan pembelajaran.
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Apa pengertian
dari pengelolaan kelas?
B.
Bagaimana
peran guru dalam pengelolaan kelas?
C.
Apa
saja faktor – faktor yang mempengaruhi suasana kelas?
D.
Bagaimana
prinsip – prinsip dalam pengelolaan kelas?
E.
Apa
tujuan pengelolaan kelas yang efektif?
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pengelolaan Kelas
Kelas adalah ruangan belajar
(lingkungan fisik) dan rombongan belajar (lingkungan sosioemosional).
Lingkungan fisik meliputi : ruangan kelas, keindahan kelas, pengaturan tempat
duduk, pengaturan sarana atau alat – alat lain, dan ventilasi serta pengaturan cahaya.
Sedangkan lingkungan sosioemosional meliputi tipe kepemimpinan guru, sikap
guru, suara guru, pembinaan hubungan baik dan sebagainya. Pengelolaan kelas
adalah menyiapkan kondisi yang optimal agar proses pembelajaran dapat
berlangsung secara efektif dan efisien. Sedangkan menurut Winzer (1995)
pengelolaan kelas adalah cara – cara yang ditempuh guru dalam menciptakan
lingkungan kelas agar tidak terjadi kekacauan dan memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk mencapai tujuan akademis dan sosial.
Oleh karena itu, pengelolaan kelas adalah
serangkaian tindakan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku
peserta didik yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku peserta didik yang
tidak diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim
sosioemosional yang positif, serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas
yang produktif dan efektif. Dengan kata lain, pengelolaan kelas adalah usaha
uru untuk menciptakan, memelihara, dan mengembangkan iklim belajar yang kondusif.
Dengan demikian, pengelolaan kelas
adalah berbagai usaha yang dilakukan guru dalam menciptakan dan mempertahankan
atau mengembalikan kondisi kelas yang optimal sehingga terjadi proses
pembelajaran yang efektif dan efisien. Jadi, proses pembelajaran yang efektif
dan efisien dapat terjadi apabila situasi dan kondisi kelas mendukung atau
kondusif.
Suasana kelas yang kondusif akan
mampu mengantarkan pada prestasi akademik dan nonakademik peserta didik, maupun
kelasnya secara keseluruhan. Kelas yang kondusif di antaranya memiliki ciri –
ciri : tenang, dinamis, tertib, suasana saling menghargai, saling mendorong,
kreativitas tinggi, persaudaraan yang kuat, saling berinteraksi dengan baik,
dan bersaing sehat untuk kemajuan. Artinya, kelas dapat diciptakan dan berperan
sebagai sumber belajar.[1]
B. Peran Guru Dalam Pengelolaan Kelas
Dalam
pembelajaran di dalam kelas, baik yang bersifat instruksional maupun
non-instruksional, akan dapat dicapai bila dapat diciptakan dan dipertahankan
kondisi yang menguntungkan bagi siswa. Dalam setiap pembelajaran di kelas, guru
diharapkan mampu merencanakan dan mengusahakan agar proses pembelajaran dapat
berlangsung secara maksimal dan aman dari kondisi yang dapat merugikan siswa,
baik yang timbul dari siswa itu sendiri maupun dari lingkungan siswa.[2]
Pada dasarnya proses belajar mengajar merupakan inti dari proses
pendidikan secara keseluruhan, di antaranya guru merupakan salah satu faktor
yang penting dalam menentukan berhasilnya proses belajar mengajar di dalam
kelas. Oleh karena itu guru dituntut untuk meningkatkan peran dan
kompetensinya, guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan
belajar yang efektif dan akan lebih mampu mengelola kelasnya sehingga hasil
belajar siswa berada pada tingkat yang optimal.
1.
Guru sebagai
Sumber Belajar
Peran guru
sebagai sumber belajar merupan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber
belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Kita bisa menilai
baik atau tidaknya seorang guru hanya dari penguasaan materi pelajaran.
Dikatakan guru yang baik manakala ia dapat menguasai materi pelajaran dengan
baik, sehingga benar – benar ia berperan sebagai sumber belajar bagi anak
didiknya. Apapun yang ditanyakan siswa sekaitan dengan materi pelajaran yang
sedang diajarkannya, ia akan dapat menjawab dengan penuh keyakinan. Sebaliknya,
dikatakan guru yang kurang baik manakala ia tidak paham tentang materi yang
diajarkannya. Ketidakpahaman tentang materi pelajaran biasanya ditunjukkan oleh
perilaku – perilaku tertentu misalnya, tekhnik penyampaian materi pelajaran
yang monoton, ia lebih sering duduk di kursi sambil membaca, suaranya lemah,
tidak berani melakukan kontak mata dengan siswa, miskin dengan ilustrasi dan
lain sebagainya. Perilaku guru yang demikian dapat menyebabkan hilangnya
kepercayaan pada diri siswa, sehingga guru akan sulit mengendalikan kelas.
2.
Guru sebagai
Fasilitator
Sebagai fasilitator guru berperan dalam
memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran.
Sebelum proses pembelajaran dimulai sering guru bertanya : bagaimana caranya
agar ia mudah menyajikan bahan
pelajaran? Pertanyaan tersebut sekilas memang ada benarnya. Melalui usaha yang
sungguh – sungguh guru ingi agar ia mudah menyajikan bahan pelajaran dengan
baik. Namun demikian, pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran
berorientasi pada guru. Oleh sebab itu, akan lebih bagus manakala pertanyaan
tersebut diarahkan pada siswa, misalnya apa yang harus dilakukan agar siswa
mudah mempelajari bahan pelajaran sehingga tujuan belajar tercapai secara
optimal. Pertanyaan tersebut mengandung makna, kalau tujuan mengajar adalah mempermudah
siswa belajar. inilah hakikat peran fasilitator dalam proses pembelajaran.
3.
Guru sebagai
Pengelola
Sebagai
pengelola pembelajaran (learning manajer), guru berperan dalam
menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman.
Melalui pengelolaan kelas yang baik guru dapat menjaga kelas agar tetap
kondusif untuk terjadinya proses belajar seluruh siswa.
4.
Guru sebagai
Demonstrator
Yang dimaksud
dengan peran guru sebagai demonstrator, adalah peran untuk mempertunjukkan
kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan
memahami setiap pesan yang disampaikan. Ada dua konteks guru sebagaii
demonstrator. Pertama, sebagai demonstrator berarti guru harus
menunjukkan sikap – sikap yang terpuji. Dalam setiap aspek kehidupan, guru
merupakan sosok ideal bagi setiap siswa. Biasanya apa yang dilakukan guru akan
menjadi acuan bagi siswa. Dengan demikian, dalam konteks ini guru berperan
sebagai model dan teladan bagi setiap siswa. Kedua, sebagai
demonstrator guru harus dapat menunjukkan bagaimana caranya agar setiap materi
pelajaran dapat lebih dipahami dan dihayati oleh setiap siswa. Oleh karena itu,
sebagai demonstrator erat kaitannya dengan pengaturan strategi pembelajaran
yang lebih efektif.
5.
Guru sebagai Pembimbing
Siswa adalah
individu yang unik. Keunikan itu bisa dilihat dari adanya setiap perbedaan.
Artinya, tidak ada dua individu yang sama. Walaupun secara fisik mungkin
individu memiliki kemiripan, akan tetapi pada hakikatnya mereka tidaklah sama,
baik dalam bakat, minat, kemampuan dan sebagainya. Di samping itu, setiap
individu juga adalah makhluk yang sedang berkembang. Irama perkembangan mereka
tentu tidaklah sama juga. Perbedaan itulah yang menuntut guru harus berperan
sebagai pembimbing. Membimbing siswa agar dapat menemukan berbagai potensi yang
dimilikinya sebagi bekal hidup mereka; membimbing siswa agar dapat mencapai dan
melaksanakan tugas – tugas perkembangan mereka.
6.
Guru sebagai
Motivator
Dalam proses
pembelajaran motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting.
Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya
yang kurang, akan tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar
sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya. Motivasi
sangat erat hubungannya dengan kebutuhan, sebab memang motivasi muncul karena
kebutuhan. Seseorang akan terdorong untuk bertindak manakala dalam dirinya ada
kebutuhan. Kebutuhan ini yang menimbulkan keadaan ketidakseimbangan
(ketidakpuasan), yaitu ketegangan – ketegangan, dan ketegangan itu akan hilang
manakala kebutuhan itu telah terpenuhi. Proses pembelajaran akan berhasil
manakala siswa memiliki motivasi dalam belajar. oleh sebab itu, guru perlu
menumbuhkan motivasi belajar siswa.
7.
Guru sebagai
Evaluator
Sebagai
evaluator guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang
keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Terdapat dua fungsi dalam
memerankan perannya sebagai evaluator. Pertama, untuk menentukan
keberhasilan siswa dalam menyerap materi kurikulum. Kedua, untuk
menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah
diprogramkan.[3]
C. Faktor Yang Mempengaruhi
Suasana Kelas
Suasana kelas dipengaruhi oleh banyak
faktor, di antaranya adalah keadaan hubungan instruktur dengan partisipan.
Faktor-faktor yang diperkirakan berpengaruh kepada keadaan hubungan instruktur
– partisipan antara lain : (1) adanya dan berjalannya aturan, baik aturan kelas
maupun aturan akademik ; (2) berjalannya sistem penghargaan dan hukuman yang
disepakati bersama antara instruktur dengan partisipan ; (3) penguasaan
instruktur terhadap teknik pembelajaran aktif ; (4) penguasaan instruktur terhadap teknik
pengembangan motivasi belajar ; (5) penguasaan instruktur terhadap teknik
komunikasi ; dan (6) penguasaan instruktur terhadap teknik penguasaan kelas.
Penguasaan terhadap berbagai teknik tersebut harus dibarengi dengan penguasaan
terhadap bahan atau bidang pelajaran. Kemampuan teknik dan substantif itu akan
menempatkan instruktur pada posisinya sebagai pembina kelas.[4]
Hubungan
instruktur – partisipan : Dalam pengelolaan kelas, perlu pembinaan hubungan
instruktur – partisipan pelatihan sehingga menjadi hubungan yang bersifat
profesional. Hubungan profesional adalah hubungan saling menghormati dan saling
membantu di antara instruktur dan partisipan, sehingga masing-masing dapat
menjalankan perannya menuju ke arah pencapaian tujuan bersama. Hubungan instruktur – partisipan banyak
ditentukan oleh karakteristik pribadi masing-masing secara individual.
Karakteristik pribadi instruktur termasuk tanggung jawab, sikap profesional,
sikap sosial, dan kesabaran. Karakteristik partisipan termasuk inteligensi, sikap
sosial, rasa hormat kepada instruktur, kesadaran akan tujuan, serta
karakteristik pribadi yang dibangun oleh lingkungan keluarga dan masyarakat.
Karakteristik pribadi dapat membangun hubungan instruktur – partisipan yang
bersifat personal, ataupun profesional.
A.
Aturan
Dalam
pelatihan ada dua jenis aturan yang perlu ditetapkan, yaitu aturan tentang tata
tertib kelas dan akademik. Aturan tentang tata tertib kelas, misalnya aturan
tentang keharusan hadir tepat-waktu, kalau tidak dapat masuk kelas harus
meminta ijin kepada instruktur atau pengelola program, kalau sakit harus dengan
surat keterangan dokter, mematikan telpon genggam selama mengikuti pelajaran,
dan sebagainya. Aturan akademik, misalnya keharusan memenuhi jumlah kehadiran
tertentu untuk dapat mengikuti ujian mata pelajaran, aturan tentang sertifikasi
setelah menyelesaikan program pelatihan, kedisiplinan pelaksanaan tugas-tugas
individual dan kelompok, dan sebagainya.
B.
Sistem Penghargaan dan Hukuman
Rewards and Punishment System, atau sistem pemberian penghargaan dan hukuman, untuk
selajnutnya disebut SPH, merupakan tatanan yang erat berkaitan dengan suasana
kelas. Tatanan ini di satu sisi terkait dengan upaya menumbuhkan motivasi
belajar, dengan cara memberikan penghargaan dalam berbagai bentuk kepada siswa
yang berhasil baik, atau berbuat sesuai dengan harapan, ketentuan, atau aturan.
Di sisi yang lain tatanan ini dimaksudkan untuk menegakkan disiplin di kelas.[5]
C.
Penguasaan Teknik Pembelajaran Aktif
Beberapa
pihak menganggap bahwa semua kegiatan belajar adalah belajar aktif. Hal ini
disebabkan karena kegiatan belajar tentulah dibarengi dengan kegiatan
mendengar, mencatat sambil berpikir tentang apa yang dicatat, berpikir untuk
berusaha memahami apa yang dicatat, dan berpikir untuk mengaitkannya dengan
lanjutan materi ceramah yang dicatatnya, dan seterusnya.
Lebih dari itu: Belajar
aktif menuntut kegiatan pembelajar yang lebih dari itu. Secara fisik ia
dituntut untuk melakukan kerja individual, kerja kelompok, diskusi, dan
kegiatan-kegiatan gabungan dalam kesatuannya dengan metode ceramah. Secara
mental belajar aktif juga menuntut pembelajar untuk melakukan kegiatan kognitif
yang lebih tinggi, yaitu analisis, sintesis, dan evaluasi. Ciri-ciri fisik dan
ciri mental itu menumbuhkan ciri belajar aktif yang lain, ialah ciri kualitas.
Ciri kualitas yang dimaksud di sini adalah persistensi, keterarahan munuju
tujuan, dan belajar aktif kreativitas.
D.
Penguasaan Teknik Motivasi
Yang
dimaksud dengan teknik motivasi adalah teknik pembangunan motivasi lewat
kegiatan mengajar dalam program pelatihan. Kerangka sajiannya adalah kerangka
Model Pengembangan Motivasi. Kerangka model ini digunakan karena teknik
mengajar yang akan disajikan pada dasarnya adalah teknik untuk mengembangkan
komponen-komponen pembentuk motivasi belajar yang disebutkan dalam model
tersebut.[6]
E.
Teknik Komunikasi
Salah
satu tradisi pengelolaan kelas adalah tradisi humanistic. Menurut tradisi ini
hubungan guru – murid dapat dibina dengan komunikasi yang baik. Tradisi ini
yakin bahwa komunikasi dapat mengendalikan tingkah laku murid. Dalam tradisi
ini antara lain dikenal Communication Skills Approach, atau
pendekatan ketrampilan komunikasi. Dasar pikiran pendekatan ini adalah :
komunikasi yang baik akan menumbuhkan self-esteem, dan self-esteem yang
baik akan mendorong perbuatan yang baik. Hal ini disebabkan perasaan dihargai
oleh guru akan mencegah perbuatan yang kurang baik.
F.
Penguasaan Kelas
Instruktur
harus dekat dengan partisipan tetapi di mata partisipan ia tetap harus memiliki
otoritas secara profesional. Untuk itu, ia harus berusaha melaksanakan tugasnya
dengan baik, sehingga memuaskan diri sendiri, dan memuaskan partisipan. Ia
harus mampu mengatasi masalah di kelas yang dapat menghambat pelaksanaan tugas
profesionalnya. Partisipan akan menilai kemampuan instruktur ini, dan
memberikan apresiasi serta respek kalau instruktur mampu menangani dan
mengatasi masalah-masalah yang ada di kelas.[7]
D. Prinsip Pengelolaan
Kelas
Prinsip –
prinsip pengelolaan kelas yang dikemukakan oleh Djamarah adalah sebagai berikut
:
a.
Hangat dan Antusias
Hangat
dan Antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan
akrab pada anak didik selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada
aktifitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.
b.
Tantangan
Penggunaan
kata – kata, tindakan, cara kerja, atau bahan – bahan yang menantang akan meningkatkan gairah
peserta didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah
laku yang menyimpang.
c.
Bervariasi
Penggunaan
alat atau media, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik
akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian peserta didik.
Kevariasian ini merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang
efektif dan menghindari kejenuhan.
d.
Keluwesan
Keluwesan
tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah
kemungkinan munculnya gangguan peserta didik serta menciptakan iklim belajar mengajar
yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti
keributan peserta didik, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan
sebagainya.
e.
Penekanan pada Hal – hal yang Positif
Pada
dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang
positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negatif.
Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru
terhadap tingkah laku peserta didik yang positif daripada mengomeli tingkah
laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian
penguatan yang positif dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang
dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
f.
Penanaman Disiplin Diri
Tujuan
akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan dislipin
diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengendalikan diri dan
pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin dalam segala hal bila
ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.[8]
Untuk menciptakan ruang kelas yang nyaman dan tidak
menghambat pergerakan siswa dan guru dapat mengamati seluruh aktivitas siswa
secara mudah, maka perlu setting kelas yang merujuk pada empat prinsip dasar
dalam menata kelas belajar :
·
Kurangi Kepadatan di Tempat
Lalu-Lalang.
Gangguan
dapat terjadi di daerah yang sering dilewati. Daerah ini antara lain area
belajar kelompok, bangku siswa, meja guru, dan lokasi penyimpanan pensil, rak
buku, computer, dan lokasi lainnya. Pisahkan area ini sejauh mungkin dan
pastikan mudah diakses.
·
Pastikan Bahwa Guru dapat dengan
Mudah Melihat Semua Siswa.
Tugas
manajemen yang penting adalah memonitor semua siswa secara cermat. Untuk itu
guru harus dapat melihat semua siswanya yang sedang diajar.
·
Materi Pelajaran dan Perlengkapan
Siswa Harus Mudah Diakses.
Ini
untuk meminimalkan waktu persiapan dan perapian, dan mengurangi kelambatan dan
gangguan aktivitas.
·
Pastikan Semua Siswa Dapat Melihat
Semua Presentasi Kelas.
Tentukan
di mana Guru dan siswa akan berada saat presentasi kelas diadakan. Untuk aktivitas
ini, siswa tidak boleh memindahkan kursi, atau menjulurkan lehernya. Dengan
kata lain, pastikan semua siswa duduk pada tempatnya.[9]
Agar
tercipta suasana belajar yang menggairahkan, perlu diperhatikan pengaturan dan
penataan ruang kelas/belajar. Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya
memungkinkan anak duduk berkelompok dan memudahkan guru bergerak secara kuasa
untuk membantu siswa dalam belajar. Dalam pengaturan perlu diperhatikan hal-hal
berikut: Ukuran dan bentuk kelas, bentuk serta ukuran bangku dan meja siswa,
jumlah siswa dalam kelas, jumlah siswa dalam setiap kelompok, jumlah kelompok
dalam kelas, komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa pandai dengan siswa
kurang pandai, pria dan wanita).[10]
1. Pengaturan Kondisi Ruangan Kelas
Kegiatan
belajar mengajar mencakup segala jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakukan,
baik secara langsung ataupun tidak, yang dimaksudkan untuk mencapai tujuan –
tujuan pengajaran yang telah digariskan. Adapun faktor – faktor yang harus
dilakukan dalam penyelenggaraan kelas, yaitu :
a.
Ventilasi dan Tata Cahaya
Kondisi – kondisi yang
perlu diperhatikan didalam ruang kelas adalah :
1)
Ada ventilasi yang sesuai dengan
ruangan kelas
2)
Sebaiknya tidak merokok
3)
Pengaturan cahaya perlu diperhatikan
4)
Cahaya yang masuk harus cukup
5)
Masuknya dari arah kiri, jangan
berlawanan dengan bagian depan
b.
Pemeliharaan Kebersihan dan Penataan Keindahan Ruang Kelas
Pemeliharaan
Kebersihan
1)
Siswa bergiliran untuk membersihkan kelas
2)
Guru memeriksa kebersihan dan
ketertiban dikelas
Penataan Keindahan
1) Memasang hiasan dinding yang mempunyai nilai edukatif
(contohnya Burung Garuda, Teks Proklamasi, Slogan
Pendidikan, Para Pahlawan, Peta/Globe)
2) Mengatur tempat duduk siswa, lemari, rak buku, dan
semacamnya secara rapi (Untuk penempatan buku diletakkan di depan dan alat
peraga di belakang)
3) Merapikan meja guru dengan memakai
taplak meja, vas bunga, dan sebagainya
2. Pengaturan Tempat Duduk
Dalam
kegiatan belajar mengajar, siswa memerlukaan tempat duduk yang tidak mengganggu
siswa, karena kurang aman atau tidak nyaman dipakai. Jika siswa duduk
berjam-jam di tempat duduk dengan keadaan tidak cukup aman dan tidak nyaman,
mereka tidak akan dapat berpikir tentang pelajaran tersebut dan terus menerus
merasakan "siksaan" sebagai akibat dari tempat duduk yang tidak
nyaman.
Pada prinsipnya, kriteria tempat duduk yang memadai adalah tempat duduk yang bisa menunjang kegiatan belajar mengajar, yaitu aman dan nyaman untuk dipergunakan. Di antara aspek yang perlu diperhatikan mengenai tempat duduk di antaranya adalah sebagai berikut :
Pada prinsipnya, kriteria tempat duduk yang memadai adalah tempat duduk yang bisa menunjang kegiatan belajar mengajar, yaitu aman dan nyaman untuk dipergunakan. Di antara aspek yang perlu diperhatikan mengenai tempat duduk di antaranya adalah sebagai berikut :
a. Segi Keamanan
Guru atau
murid yang menempati tempat duduk tersebut benar-benar merasa aman sehingga
tidak perlu khawatir akan jatuh atau celaka. Dengan demikian mereka dapat
berkonsentrasi terhadap kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung.
b. Segi Kenyamanan
b. Segi Kenyamanan
Kenyamanan
di sini bukan berarti tempat duduk itu harus empuk (tetapi jika mampu demikian
tidak masalah), melainkan tempat duduk tersebut cukup enak digunakan, dilihat
dari alas yang diduduki harus datar dan jangan sampai miring, mempunyai
sandaran, tidak terlalu ke depan atau ke belakang. Perbedaan tinggi antara
tempat duduk dengan tempat menulis harus memadai.
c.
Segi Ukuran
Agar
merasa aman dan nyaman, sebaiknya diperhatikan kondisi tempat duduk yang
memenuhi hal-hal berikut :
1) Tempat duduk guru lebih tinggi dari
tempat duduk siswa, agar guru mudah mengawasi setiap kegiatan siswa.
2)
Meja dan kursi untuk siswa sebaiknya
:
a)
Terpisah, agar memudahkan pengaturan
untuk kegiatan lainnya.
b)
Bentuknya sederhana, kokoh, dan
bahannya kuat.
c)
Ukuran daun meja adalah 100cm x 50cm
(standar)
d)
Tinggi meja kurang lebih setinggi
pinggul siswa.
e)
Tinggi kursi kurang lebih setinggi
lutut siswa.
Bentuk dan
ukuran tempat yang digunakan sekarang bermacam-macam, ada yang satu tempat
duduk untuk beberapa orang, atau hanya untuk seorang siswa. Sebaiknya tempat
duduk siswa ukurannya tidak terlau besar, agar mudah diubah-ubah formasi tempat
duduknya sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, pada pengajaran dengan cara
berdiskusi, maka formasi tempat duduk sebaiknya berbentuk melingkar. Jika
pengajaran ditempuh dengan metode ceramah, tempat duduknya sebaiknya berderet
memanjang kebelakang atau berbentuk farmasi tapal kuda (pola ini guru berada di
tengah siswa). Pola ini dapat digunakan apabila pelajaran banyak memerlukan
tanya jawab antara guru dan siswa dan lebih memudahkan saling berkomunikasi
atau konsultasi. Di samping susunan meja dan kursi yang fleksibel menurut pola
formasi tertentu, khususnya siswa SD/TK pada waktu mengikuti kegiatan belajar
mengajar tidak terlalu terpaku duduk di kursi akan tetapi dapat juga duduk di
tikar atau karpet yang bergambar atau berabjad, belajar mereka harus
disesuaikan dengan kegiatan yang dilaksanakan pada waktu itu, karena siswa TK
perlu lebih banyak praktik untuk melatih kecerdasan psikomotorik mereka.[11]
3.
Pengaturan Alat-Alat Pengajaran adalah:[12]
a.
Perpustakaan Kelas
1)
Sekolah yang maju mempunyai
perpustakaannya di setiap kelas.
2)
Pengaturanya bersama-sama siswa.
b.
Alat – alat peraga media pengajaran
1) Alat peraga atau media pengajaran
semestinya diletakkan di dalam kelas agar memudahkan dalam penggunaanya.
2)
Pengaturannya bersama-sama siswa.
c.
Papan tulis, kapur tulis, dll
1)
Ukurannya disesuaikan
2)
Warnanya harus kontras
3)
Penempatannya memperhatikan etestika
dan terjangkau oleh semua siswa
d. Papan resensi siswa
1)
Ditempatkan di bagian depan sehingga
dapat dilihat oleh semua siswa
2)
Difungsikan sebagaimana mestinya
E. Tujuan Pengelolaan Kelas
Yang Efektif
Menurut Usman pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan
umum dan tujuan khusus :
1. Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan
menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar mengajar
agar mencapai hasil yang baik.
2. Tujuan khususnya adalah
mengembangkan kemampuan
peserta
didik dalam menggunakan alat-alat belajar, menyediakan kondisi-kondisi yang
memungkinkan peserta didik bekerja dan belajar, serta membantu peserta didik
untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
Sedangkan
Arikunto (dalam Djamarah 2006) berpendapat bahwa tujuan pengelolaan kelas
adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera
tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.[13]
Manajemen
kelas yang efektif mempunyai dua tujuan : (1) Membantu siswa menghabiskan lebih
banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu siswa yang tidak diorientasikan
pada tujuan, dan (2) Mencegah murid mengalami problem akademis dan emosional.[14]
Pengelolaan kelas dalam program pelatihan bertujuan
membangun suasana kelas yang kondusif bagi berlangsungnya proses pembelajaran,
sehingga dapat dicapai hasil belajar yang sebaik – baiknya. Hasil belajar yang
baik akan membantu mengembangkan motivasi belajar partisipan. Keadaan motivasi
belajar yang baik mendorong partisipan bukan hanya dapat menerima pelajaran dengan
baik, melainkan juga mengembangkannya atas inisiatif sendiri. Dengan kata lain,
motivasi belajar yang baik akan menyebabkan terjadinya kegiatan belajar mandiri
partisipan.[15]
IV.
ANALISIS
Pengelolaan kelas adalah seperangkat
kegiatan guru untuk menciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas.
Definisi ini memandang pengelolaan kelas sebagai proses untuk mengontrol
tingkah laku siswa. Dalam peranannya sebagai pengelola kelas
(learning manager), guru hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan
belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Pengelolaan kelas merupakan usaha sadar, untuk mengatur kegiatan
proses belajar mengejar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan
bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar,
mewujudkan situasi atau kondisi proses belajar mengajar.
Keberhasilan guru mengajar di kelas
tidak cukup bila hanya berbekal pada pengetahuan tentang kurikulum, metode
mengajar, media pengajaran, dan wawasan tentang materi yang akan disampaikan
kepada anak didik. Di samping itu guru harus menguasai kiat manajemen kelas. Dalam mencapai
tujuan pengajaran maka diperlukan
interaksi antara pendidik dengan anak didknya. Pendidik berusaha mengatur
lingkungan belajar bagi anak didik. Untuk itu bagi pendidik diperlukan
pemilihan strategi dan metode mengajar
yang tepat sehingga mampu mengelola kelas dengan baik agar tercapai tujuan
pengajaran secara efektif dan efesien dalam proses belajar mengajar.
V.
KESIMPULAN
Pengelolaan kelas adalah serangkaian
tindakan guru yang ditujukan untuk mendorong munculnya tingkah laku peserta
didik yang diharapkan dan menghilangkan tingkah laku peserta didik yang tidak
diharapkan, menciptakan hubungan interpersonal yang baik dan iklim
sosioemosional yang positif, serta menciptakan dan memelihara organisasi kelas
yang produktif dan efektif.
Dalam setiap pembelajaran di kelas,
guru diharapkan mampu merencanakan dan mengusahakan agar proses pembelajaran dapat
berlangsung secara maksimal dan aman dari kondisi yang dapat merugikan siswa,
baik yang timbul dari siswa itu sendiri maupun dari lingkungan siswa.
Prinsip-prinsip pengelolaan kelas
meliputi: hangat dan antusias, tantangan, bervariasi, keluwesan, penekanan pada
hal-hal yang positif, dan penanaman disiplin diri. Pengelolaan kelas dalam
program pelatihan bertujuan membangun suasana kelas yang kondusif bagi
berlangsungnya proses pembelajaran, sehingga dapat dicapai hasil belajar yang
sebaik – baiknya.
VI.
PENUTUP
Demikian makalah ini dibuat, semoga bermanfaat bagi pembaca pada
umumnya dan bagi pemakalah pada khususnya. Pemakalah menyadari masih banyak
kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu kritik dan saran yang
membangun sangat diharapkan guna kesempurnaan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Djamarah, 1996. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka
Cipta.
Hernawan, Hery, 2006. Pengelolaan Kelas, Bandung: UPI PRESS.
Mukhtar. 2003. Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
Jakarta : Misaka Galiza.
Mujiman, Haris.
2011. Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri, Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Sanjaya, Wina. 2008. Kurikulum
dan Pembelajaran, Jakarta : Kencana.
Syaifurahman dan Tri Ujiati. 2013.
Manajemen Dalam Pembelajaran, Jakarta : PT Indeks.
Warsita,
Bambang. 2008. Teknologi Pembelajaran, landasan dan aplikasinya, Jakarta
: Rineka Cipta.
https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2012/10/pengelolaan-kelas.pdf, diakses pada
tanggal 05 November 2014, pukul 19.34
[1]Bambang
Warsita, Teknologi Pembelajaran, landasan dan aplikasinya, (Jakarta :
Rineka Cipta, 2008), hlm. 274 – 275
[2]
Mukhtar, Desain Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Misaka
Galiza, 2003), hlm. 132
[3]
Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta : Kencana, 2008),
hlm. 281 – 290
[4]
Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri, (Yogyakarta
: Pustaka Pelajar, 2011), hlm. 102
[5]
Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri,….. hlm. 102
– 107
[6]
Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri,….. hlm. 118
– 121
[7]
Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri,….. hlm. 133
– 134
[8]
https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2012/10/pengelolaan-kelas.pdf,
di akses pada tanggal 05 November 2014, pukul 16.43
[9]
Syaifurahman dan Tri Ujiati, Manajemen Dalam Pembelajaran, (Jakarta : PT
Indeks, 2013), hlm. 111
[10]
Djamarah, Strategi
Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm. 227
[11]
Hery Hernawan, Pengelolaan
Kelas, (Bandung: UPI PRESS, 2006), hlm. 9
[12]
Djamarah, Strategi
Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm. 229
[13]
https://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2012/10/pengelolaan-kelas.pdf,
di akses pada tanggal 05 November 2014, pukul 19.34
[14]
Syaifurahman dan Tri Ujiati, Manajemen Dalam Pembelajaran,……….. hlm. 111
[15]
Haris Mujiman, Manajemen Pelatihan Berbasis Belajar Mandiri,….. hlm. 101
– 102
Tidak ada komentar:
Posting Komentar